TC Fotovoice

SUMUR-Air tawar adalah sesuatu yang langka di Amanuban dan Amanatun. Sebagian orang mengambil air bersih jauh sekali, dari sungai yang debit airnya berkurang saat kemarau, atau mata air. sebagian membuat sumur dan airnya asin. Satu dari sedikit sekali orang beruntung yang memiliki sumber air bersih di depan rumah. Tapi, ini adalah sumur baru. Sebelumnya ia harus mengambil air dari jembatan Kualin, setelah sumur yang digali oleh pemerintah kering. Karena jarak yang terlalu jauh akhirnya mereka berusaha membuat sumur dan beruntung, airnya tawar.

 

SAMPANMasyarakat pesisir Timor tidak banyak yang menekuni perikanan. Sebagian besar dari mereka bertani jagung untuk mencukupi kebutuhan makan dan menjual batu putih untuk memperoleh uang. Ada juga yang mencari ikan ke laut, mereka menebar pukat dan menggunakan sampan seperti di gambar. Menurut data dari provinsi NTT, dari seluruh penduduk yang tinggal di kawasan pesisir, hanya 9,9% yang menjadi nelayan. Mayoritas masyarakat bertani jagung, sebagian memiliki kebun di lereng, dan sebagian lagi menjual batu putih yang terhampar di pantai. Batu-batu ini kelak yang menjadi batu hias di rumah-rumah di Jawa. Batu tersebut dijual per karung, dengan satu karung dihargai Rp 10.000. Batu-batu diambil oleh pengepul dengan truk atau pick-up untuk kemudiandiserahkan pada tengkulak. Dari tengkulak mereka menjualnya ke Soe atau Kupang, dan dari Kupang dikapalkan ke Surabaya.

 

SISA BATU“mereka potong batu itu dengan bor,” kata Mama Ety sambil menunjuk batu ini. Garis-garis yang terpampang di mukanya adalah bekas pemotongan.Setelah tambang pergi, seperti Naita pandan Naususu, batu-batu yang sempat dikerat berserak begitu saja.

NIFU OBBila kemarau tiba, masyarakat akan mengambil air kemari. “Orang-orang penuh di sini.Ada yang mencuci di sana, dantimba air,” kata Ilen.Sumber air ini, menurut Mama, adalah salah satu yang paling diandalkan ketika kemarau dan mata air lain kering.

BERKEBUN LAGIMenurut Mama Et, di sekeliling Naitapan dulu adalah kebun dan tempat orang melepas ternak. Tambang merampas ruang-ruang itu dan kini, setelah tambang pergi, orang mulai berkebun dan beternak di sekeliling Naitapan.Tapi, siapakah yang kembali kesana? Kapan mereka kembali berkebun? Apa pergeseran-pergeseran ruang pasca-tambang?

BUKAN GEDUNGKarena bentuk akhirnya yang lebih dekat padat rapesium membuat saya membayangkan piramida. Hanya saja ini bukan pramida. Dari dekati mirip gedung batu yang ditinggalkan. Hanya saja ini bukan.  Dari atas ia mungkin bias digunakan sebagai property pementasan. Hanya saja ini bukan.

NaitapanInilah Naitapan. Dulu ia gunung batu tinggi menjulang yang merupakan asal-usul masyarakat adat. Kolam di depannya telah merenggut banyak nyawa. Kebanyakan anak yang tenggelam.

SARAG LEBAHOm PT Sadalah salah satu pemilik pohon lebah, dan di hari terakhir saya menginap, dia member saya sarang lebah. Saya memakannya dengan ragu awalnya, tapi ternyata enak. Manis, terlalu manis malah. Iaber cerita salah satu teman dari UGM alergi terhadap sarang lebah dan gatal-gatal. Saya yang baru saja memakan setengahnya sedikit was-was, tapi ternyata saya baik-baik saja.Om Petrus kemudian mengundang saya dating Oktober saat panen madu tiba.

PENUTUPAN BULAN BAKTIBulan Mei adalah bulan bakti, begitu menurut pemerintah.Dan orang-orang di desa menyambutnya dengan gotong royong tofa kebun dan bersih-bersih kampung. Di awal Juni ini, camat Mollo Utara mengadakan penutupan di desa Lelobatan. Dari 18 desa, yang hadir hanya separuh, tapi tokoh-tokoh adat dari Netpala hadir semua.

DI KEBUN HAUSUMFENUPertama kali mengenalnya, saya memanggilnya Mama Dewi. Sebagaimana Mama lain di kampung, ia akan dipanggil dengan nama anak pertama, atau nama sapaan marganya, Sully (iabemarga Nome). Kali ini ia membawa ember untuk menampung sayuran, parang untuk tofa. Berbeda dengan tantaTolly, Vanda tidak memintanya berpose. Ia memotret sambal berjalan. Kedua potret ini adalah pemandangan sehari-hari perempuan yang pergi berkebun di Amanatun.

MAKAN ADATDalam rangkaian syukuran kali ini, ada makan adat berupa makan nasi dengan daging babi langsung dari bokor/niru tanpa sendok. Semua yang terlibat makan ini tidak boleh pergi dari tempatnya sampai makanan habis. Om Ts berkata saya tidak usah ikut karena takut saya sakit perut, tapi saya mencoba. Setelah dirasa kenyang saya diperbolehkan berhenti makan tapi tetap tinggal di tempat.

OE SUSTANAOe Sustana terletak sekira setengah kilo dari rumah tempat saya tinggal di Netotole. Di sini, saya lebih sering timba air sore hari bersama semua tetangga, karena hanya ini sumber air yang terjangkau oleh kami. Fokena futer lalu jauh dan curam. Ada satu hal yang aneh dari mata air ini, di sini, jika musim hujan tiba, debit air berkurang. Ini tidak akan menjadi masalah besar jika hujan turun, warga biasa menampung air hujan. Namun kerap kali, hujan turun di tempat lain, debit air berkurang, dan warga tak punya cadangan air.

OENAEK – FAUTBOINIni adalah sumber air paling dekat dengan rumah pertama yang saya tinggali. Letaknya hanya sekira seratus langkah dari rumah. Sumber air ini dimanfaatkan untuk kebun milik Om Tus, selain keperluan air di empat keluarga. Setiap pagi saat bangun tidur saya akan pergi kesumber air ini dan timba air sekali jalan dua jerigen, pulang –pergi enam kali untuk keperluan hingga sore hari.

SAMPAH PLASTIK DI MATA AIRSeorang kawan berkata bahwa di kampong tak ada sampah, hanya orang Kota yang membuang sampah sembarangan. Saya tidak tahu kampong mana yang ia maksud, karena pengelolaan sampah plastic menjadi masalah besar di kampung. Dekat pasar minggu andi sekitar mata air, ada banyak sekali sampah plastik. Saat melihat kerajinan dari plastic di rumah, Vanda berkata bahwa pernah ada yang membuat pelatihan kerajinan dari sampah plastic tapi kegiatan itu tidak berlanjut.