Studi Agraria Dan Pemberdayaan Perempuan : Buku 2

Serial Panduan Lapang
STUDI AGRARIA DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Selama lima belas tahun terakhir, perjuangan mempertahankan ruang hidup dari pengrusakan lingkungan oleh negara dan korporasi –kemudian disebut krisis sosial ekologis– telah mendorong perempuan untuk ikut berjuang di garda depan. Mereka yang semula diposisikan di “dapur“ lantas muncul di ruang publik untuk melakukan upaya pemulihan dan memimpin komunitas melakukan perlawanan. Hanya saja, jumlah mereka sangatlah terbatas. Banyak perempuan cenderung “tenggelam“ lantaran tidak tahu menahu latar belakang dan dampak krisis yang sedang dihadapi. Kenyatannya, sebagian besar dari para perempuan ini masuk dalam sirkuit komoditas sebagai tenaga kerja murah maupun tenaga kerja tak berbayar. Dalam kajian cepat kebutuhan perempuan untuk perjuangan tanah air, dilakukan oleh Sajogyo Institute (2015) pada sebelas desa di enam provinsi, ditemukan sebuah kondisi di mana perempuan mengalami beragam hambatan struktural dan kultural untuk memahami situasi kampungnya secara kritis. Oleh karenanya, kondisi ini perlu dikikis perlahan melalui proses belajar. Proses tersebut bisa dimulai dengan model pengorganisasian yang menimbang upaya mengenali krisis sosial ekologis dan membangun kesepakatan pemulihannya. 

Protected Area

This content is password-protected. Please verify with a password to unlock the content.