Sri Wahyuni merupakan bagian dari perempuan Gayo  yang menolak  tambang emas PT Linge Mineral Resources di Dataran Tinggi Gayo, provinsi Aceh. Ia mengkampanyekan kelestarian hidup di kawasan dataran tinggi Gayo. Sri Wahyuni percaya gunung Leuser merupakan sumber air bagi hampir seluruh masyarakat di Aceh. Ekosistem Leuser merupakan ekosistem Terkaya dengan luas hutan tiga juta hektar yang menjadi habitat dari berbagai flora dan fauna juga termasuk empat satwa kunci seperti Harimau Sumatera, Gajah, Rangkong, dan Badak. Sri menuturkan bahwa kawasan Leuser sedang diserbu eksplorasi, eksploitasi, dan pemekaran daerah termasuk aktivitas pertambangan dengan alasan pembangunan, pembukaan lapangan kerja dan demi kesejahteraan masyarakat.

Air Lebih Berharga dari Emas

Konsesi tambang emas PT Linge Mineral Resources (LMR) luasnya  9864 Hektar berada dalam kawasan Hulu sub daerah aliran sungai (DAS) yang menopang kebutuhan air masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kawasan ini akan dibongkar untuk diambil emasnya yang direncanakan mencapai 800 ribu ton emas per tahun. akan membahayakan kelangsungan hidup masyarakat. Sebab untuk menghasilkan 1 gram emas dihasilkan sekitar 2,1 ton limbah batuan dan tailing. Kehadiran PT LMR di Linge akan merusak lingkungan sekaligus sumber pendapatan ekonomi masyarakat setemp yang sebagian besar adalah petani kopi. Kopi Gayo bahkan telah mendunia.  Hadirnya PT LMR di Linge akan berakibat buruk karena limbah tambang berpotensi merusak. Limbah pembongkaran oleh pertambangan menghilangkan tutupan hutan yang akan menyebabkan naiknya suhu udara dan menurunkan kualitas kopi Arabika Gayo Ini tentu saja akan merugikan para petani kopi perempuan di Linge yang bergantung pada hasil alam. Hadirnya PT LMR juga akan menghilangkan sejarah budaya karena tanah Linge merupakan asal mula suku Gayo di Aceh dan merupakan identitas masyarakat Gayo. Kehadiran Tambang juga akan merampas hak masyarakat terutama perempuan untuk hidup sehat dan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari – hari dan keperluan untuk bertani.

Perempuan Gayo Melawan

Dua tahun lalu  Sri Wahyuni melakukan protes seorang diri dengan menggelar aksi teatrikal di Bundaran Simpang Lima, kota Banda Aceh pada tahun 2019 sebagai bentuk penolakan kehadiran PT LMR dan kekecewaannya terhadap sikap pemerintah yang memberikan izin operasi PT LMR. Aksi teatrikal yang digelar Sri ini menarik banyak perhatian masyarakat yang melintas karena  Sri mengenakan pakaian khas tanah gayo sambil memegang spanduk bertuliskan “tambang hancurkan kopi gayo, tolak”. Selain itu masyarakat setempat dan mahasiswa yang tergabung ke dalam Gerakan Menolak Lupa juga menggelar aksi penolakan terhadap PT LMR. Menurut mereka gubernur Aceh bisa menolak izin tambang PT LMR karena Aceh merupakan daerah istimewa sehingga Aceh memiliki hak untuk mengolah sumber daya alamnya sendiri sebagaimana yang diatur undang – undang No.11 Tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh.