Oleh Mai Jebing

Minggu sore, 28  Februari 2021, Ruang Baca Puan Kolektif bertemu lagi.  Kali ini hanya berenam, kami dari Samarinda, Jakarta, dan Passau bercakap lewat zoom.  Kami mempercakapkan banyak hal, mulai rahim, pengetahuan perempuan, problem lingkungan dan puisi.

Pertemuan kolektif ini selalu unik.  Meski  tiap hari beberapa dari kami selalu bertemu dan bercakap karena kerap berada di grup whatsapp yang sama, namun pertemuan kolektif seolah sebuah reuni. Tiap orang punya ceritanya sendiri, tak terduga. Seperti cerita rahim yang menyimpan kista  dan membuat terkejut pemiliknya.

“Ada kista di rahim, diameternya sudah 6 cm”, ujar salah satu kolektif. Tak semua orang siap mendengar kabar bahwa dia harus segera melakukan operasi pengembilan kista rahim. Apalagi buat mereka yang tak pernah mengalami rawat inap di Rumah Sakit.

Ruangan zoom senyap sebentar.

“Aku kaget, sedih, panik, tidak tahu harus bicara dengan siapa. Aku takt ahu harus bagaimana. Aku menangis di rumah sakit, di perjalanan pulang aku masih menangis, berhenti sebentar, duduk di tepian (Mahakam), menangis lagi. Takut”, tuturnya. Dia bahkan tak tahu bagaimana cara memberi tahu orang tuanya. Saya memahami kekalutan itu. Membayangkan operasi rahim itu saja sudah horor tersendiri.

Kista rahim merupakan problem kesehatan perempuan yang makin sering saya dengar belakangan. Dulunya, saat duduk di Sekolah Dasar, saya mengenal istilah tumor di rahim. Itupun karena ibu saya menderita tumor rahim. Akhirnya tumor  itu diangkat saat melahirkan adik bungsu kami, dan ia memutuskan melakukan sterilisasi pencegah kehamilan. Waktu itu saya belum kenal istilah gender, sehingga tak bisa bertanya kenapa bukan Bapak yang menggunakan alat kontrasepsi.

Waktu berikutnya, saya mulai sering mendengar tentang kanker rahim. Ini sejenis tumor yang berbahaya. Setelahnya baru saya dengar istilah miom dan kista. Kista rahim ternyata umum dialami perempuan. Menurut situs alodokter.com dan hellosehat, kista rahim merupakan kantung kecil berisi cairan yang terbentuk pada rahim yang biasanya muncul dan hilang dengan sendirinya selama siklus menstruasi. Namun pada beberapa perempuan bisa membesar dan menimbulkan penyakit lebih serius jika tak ditangani.

Ternyata mengalami kista rahim ternyata bukan hal baru. Saya cukup terkejut mendengar sebagian anggota kolektif mengalamin kista rahim. Salah satu kolektif menceritakan kista di rahimnya sudah diangkat bersamaan dengan operasi kelahiran anaknya. “Ibuku juga, beberapa tahun lalu operasi kista”, tambah kolektif lainnya. Di ruang chat zoom, kolektif lain menambahkan,”aku sudah operasi, empat kista diambil dari rahim pada 2015”.

Kista rahim berada di sekeliling kita. Survey Demografi dan Kesehatan di Indonesia pada 2020  menunjukkan kejadian kista rahim mencapai 37,2 persen, kebanyakan pada perempuan usia 20-40 tahun, jarang ditemukan pada usia kurang dari 20 tahun.

Bagaimana kita tahu ada kista di rahim perempuan?  “Aku baru tahu ada kista di rahim justru saat operasi sesar Lintang. Dua kista sebesar telur ayam, posisinya pas di bagian pantat bayi.”, ujar salah satu kolektif. Umumnya, kehadiran kista tak diketahui hingga dia membesar dan menimbulkan rasa sakit, seperti sakit yang tidak biasa saat menstruasi. “Ibuku justru yang mengingatkan hubungan sakit menstruasi dengan kista di rahim ku sekarang, karena aku suka menelpon dia saat mens ku sakit banget”, tambah kolektif lainnya. Saya ingat satu kawan saya bahkan tak bisa bergerak dari tempat tidur saat menstruasi karena kesakitan seluruh tubuh, dan ternyata ada kista yang sudah membesar di rahimnya. Tentu saja tak semua rasa sakit saat menstruasi berhubungan dengan kista.

Percakapan tentang kista, pengalaman menstruasi dan rasa sakit saat menstruasi yang berbeda antara perempuan satu dan lainnya  ini memberikan kesadaran tentang pentingnya memahami dan memperhatikan kesehatan reproduksi perempuan. Saat haid, mereka butuh  “me-time”, waktu buat self-care, memberikan perhatian pada diri sendiri. Inilah mengapa cuti haid itu dibutuhkan dan menjadi bagian hak dasar perempuan. Lebih jauh, ini memperlihatkan kebutuhan berbeda antara perempuan dan laki-laki dalam mendapat layanan kesehatan reproduksi meskipun dia belum menikah.

“Dua bidan dan satu dokter, berkali-kali menanyakan apakah saya sudah menikah atau menggunakan pil KB saat bilang mau periksa karena sakit saat menstruasi”, ujarnya jengkel, seolah urusan rahim hanya berhubungan dengan mereka yang sudah menikah atau menggunakan alat pencegahan kehamilan.

(Bersambung)

Comments

comments