Rambu Amy tergabung dalam Jaringan Solidaritas Bersama Untuk Tanah Sumba (Sabana Sumba). Ia bersama kelompoknya mendampingi warga Sumba Timur yang kehilangan tanah yang dirampas PT. Muria Sumba Manis milik Grup Djarum.

Orang Sumba percaya bahwa tanah sama seperti ibu yang harus dijaga, jangan sampai rusak dan dijual pada pihak luar. Namun penjualan tanah justru g dilakukan pemerintah dengan dalih bekerja sama dengan sekelompok orang yang mengklaim dirinya sebagai penguasa lahan tersebut. Di atas lahan yang semula milik warga itulah perkebunan tebu dan pabrik gula berdiri.

Kini yang dirasakan warga hanyalah kesengsaraan. Saat musim panas, terjadi kekeringan yang sangat parah. Membuat petani gagal panen karena tidak ada air untuk sawah mereka. Saat musim hujan, airnya berlimpah menggenangi perkebunan warga hingga mengakibatkan banjir. Hal ini dikarenakan hutan-hutan dibabat habis dijadikan perkebunan tebu. Warga beranggapan daerahnya sama dengan Ibukota Jakarta yang kekurangan daerah resapan air. Anehnya Pemerintah daerah justru mengatakan kekeringan ini diakibatkan alam yang berubah.

Kenyataanya, air tidak lagi mengalir ke bendungan Wanga yang dulunya mampu mengairi sawah warga karena letak perusahaan yang berada di hulu bukit tempat sumber air utama bendungan. Di atas sana perusahaan menggali bendungan baru yang lebih dalam dengan mesin pompa air yang mereka miliki. Kini airnya dihisap perusahaan untuk memenuhi kepentingan mereka. Kekurangan air juga memberikan masalah bagi perempuan penenun ikat. Kain tenun ikat merupakan salah satu warisan budaya kebanggan Sumba. Pengrajin membutuhkan air untuk proses pewarnaan benang. Jika air sulit didapatkan maka proses pewarnaan benang akan terhambat. Bahan-bahan pewarnanya juga masih berasal dari bahan alami seperti daun-daun dan buah-buahan. Sebelumnya semua bahan itu tersedia di hutan yang kini hilang.Kesulitan air juga memberikan masalah baru bagi perempuan Sumba yang membutuhkan air untuk kegiatan rumah tangg, termasuk memasak. Ditambah tanah yang kini kering membuat para perempuan tidak dapat memanfaatkan pekarangan rumah mereka.

“Tanpa tebu kami masih bisa hidup, tapi tanpa air tidak ada kehidupan”

Di masa pandemi, dampak buruk perkebunan tebu Hadirnya PT. MSM makin terasa, tak hanya kesulitan bertani, menenun, serta memenuhi kebutuhan air sehari-hari, jual beli kain tenun juga makin serat di masa COVID-19.

Salah satu bentuk perlawanan perempuan di Sumba adalah melakukan demo saat Komnas HAM datang untuk menindaklanjuti laporan warga terhadap pelanggaran HAM oleh PT. Muria Sumba Manis. Kehadiran perkebunan tebu ini juga berimbas pada perpecahan saudara. Saat aksi digelar menolak perkebunan, maka tak lama akan ada aksi tandingan dari yang pro perusahaan. Para perempuan Sumba juga datang ke Jakarta melakukan aksi dan mencari

dukungan advokasi dari beberapa lembaga salah satunya kepada Kementerian KLHK. Sayangnya, pemerintah daerah Sumba justru tak memperdulikan suara rakyatnya.