Review Buku

PERAMPASAN RUANG HIDUP,CERITA ORANG HALMAHERA
Penulis : Surya Saluang, Didi Novrian, Risman
Buamona, Meifita Handayani
Tahun Terbit: 2014
Penerbit :Tanah Air Beta bersama Tim Belajar,
Salawaku Institute, Kora Maluku.Jumlah Halaman: 230
Preview : Aisa

Perampasan Ruang Hidup, Cerita Orang Halmahera –
Sihir Pengetahuan & Pembangunan
Manusia bukan hanya merasa bahwa alamlah
yang mereka kuasai, tapi bisa pula mereka ciptakan.
Dengan ‘sihir’, manusia pun melakukan sebagian ‘kerja’
Tuhan: Menciptakan & Menghancurkan.

Dua poin dalam semangat pembangunan: Ilmu Pengetahuan Modern dan Pembangunan Ekonomi, membuat begitu banyak negeri ini hidup dalam fase-fase kritis dan kelabu.
Mengapa demikian? Dikatakan kritis karena si miskin bertambah miskin, si kaya tambah kaya. Demikian juga orang-orang yang hidup jauh dari falsafah yang mereka kenal.

Dalam buku ini diceritakan tentang orang Halmahera hidup dalam tragedi kehilangan ruangruang hidup yang mereka kenal sejak dini, warisan dari orang tua. Tentunya telah awam diketahui bahwa penjajahan telah berlangsung di negeri ini sedemikian lama sejak masa Kolonial. Alasan yang paling mendasar adalah soal penguasaan rempah dan berlanjut ke
bentuk penguasaan lain: Tanah. Keadaan ini masih berlangsung sampai sekarang meski dengan wajah yang berbeda. Penjajahan dengan “wajah pribumi” berlangsung begitu kentara. Jenis penjajahan bercita rasa lokal ini adalah bentuk turunan, hasil dari apa yang
begitu diagungkan (secara salah kaprah) dalam semangat pembangunan tadi.

Dan sekarang, tengoklah Halmahera! Dihisap daya hidupnya tanpa ampun. Penggusuran masyarakat lokal dari tempat mereka bermukim sejak jaman nenek moyang. Perebutan tanah yang begitu masif baik yang disetujui maupun tidak telah kadung terjadi, ibarat nasi sudah jadi bubur. Seri hidup orang Halmahera adalah Hutan dan Tanah. Dari sinilah letak rekam jejak O’Hongana Manyawa ditelusuri. O’Hongana Manyawa adalah sebutan yang digunakan di dalam buku ini untuk orang-orang yang tinggal di dalam hutan (Halmahera).

Pembukaan lahan untuk lokasi tambang menyebabkan orang-orang Halmahera jatuh dalam perangkap, sebagian dalam ketidaktahuan, merelakan tanah tempat mereka hidup untuk digerogoti sampai habis. Hanya dengan janji muluk yang dikibarkan dari semangat pembangunan. Sebutlah penduduk kampung yang mengenyam pendidikan pun telah tertipu. Demikian pun yang terjadi pada O’Hongana Manyawa. Mereka harus berpindah, berusaha mengelak dari sempitnya ruang hidup yang telah terampas, laku hidup mereka pun perlahan berubah. Akhirnya dengan begitu mudah kehidupan mereka diseragamkan. Beragam program pemerintah yang digadang-gadang untuk membuat hidup mereka lebih baik, toh tidak sesuai dengan falsafah hidup yang mereka anut selama hidup bersama alam.

Keadaan tersebut dipandang sebagai “Sihir Hitam” karena sesuatu yang kini sedang bergerak menuju klimaks ruang, lebih kompleks, dan berlapis terjadi secara bersamaan. Klimaks yang paling mungkin dari keadaan ini adalah mereka mati perlahan dalam kehilangan. O’Hongana Manyawa yang dulunya hidup dari berburu dan hasil hutan lainnya harus hidup menetap dikarenakan alasan pembangunan. Apa gunanya rumah yang lengkap dengan perabotnya jika mereka yang tinggal di dalamnya terpenjara? Inilah yang di dalam buku disebut dengan pembangunan sebagai suatu kemajuan yang tidak diundang dan justru menyengsarakan.

Karya Surya Saluang, dkk menelusuri kehilangan orang Halmahera pada umumnya dari bagian hidup mereka. Dimulai dari O’Hongana Manyawa yang terus terdesak keluar dari lingkungan hidup mereka. Orang Halmahera yang di luar hutan pun tak luput dari keadaan ini. Merelakan tanah mereka digusur dengan alasan pembangunan dan diimingi ganti rugi seakan menjadi suatu keharusan. Ganti rugi adalah mantra dari sihir pembangunan bagi mereka yang memiliki tanah. Dan apakah ada ganti bagi mereka yang biasa hidup dari alam?

Buku ini memang tidak memberikan sebuah alternatif yang biasa dilakukan dalam buku-buku hasil penelitian di lapang. Hal tersebut dikarenakan metode penulisan menggunakan pendekatan emik. Mendekati dan menceritakan kembali hasil di lapangan sesuai dengan cara pandang masyarakat menjabarkan suatu pengalaman dan penilaiannya, buukan dari kacamata orang luar. Meski demikian, penulis juga memberikan penghargaan bagi pemudapemuda Halmahera dengan menyebutkan bahwa pemuda-pemuda inilah yang akan mampu mengembalikan keadaan. Agar mereka dapat hidup kembali dalam falsafah hidup yang semula, hidup bersama alam.

Bagi saya, buku yang dikatakan sebagai hasil belajar ini akan membelokkan telunjuk kita pada pihak-pihak luar negeri yang selama ini kita tuding sebagai perusak, malah berbalik ke arah muka sendiri. Bahwa wajah pribumilah yang paling berhasrat di sini, dan selalu uang yang menjadi ukuran. Jika demikian, kita pasti akan sampai pada tingkat dimana seseorang hanya menyalahkan Tuhan, menyalahkannya dalam hal apapun.