Foto: greeners.co/Danny Kosasih

BOGOR — Sekitar 120 perempuan akan meramaikan Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air di Pesantren Ath Thariq, Garut, Jawa Barat, 14-16 Juli 2017. Sebagian besar peserta berasal dari 16 desa seluruh Indonesia yang sedang berjuang menghadapi krisis sosial-ekologi di daerahnya.

Kordinator Program Perempuan dan Agraria Sajogyo Institut, Siti Maimunah, mengatakan, desa-desa itu punya beragam isu seperti gambut, masyarakat adat, tambang dan lainnya. “Beberapa yang akan hadir adalah Aleta Baun, Gunarti, Eva Bande dan Nissa Wargadipura sebagai tuan rumah,” kata Maimunah, Sabtu 8 Juli 2017.

Aleta Baun, Gunarti, Eva Bande dan Nissa Wargadipura bukan nama asing dalam perjuangan krisis sosial-ekologis. Aleta Baun menggerakkan masyarakat adat Mollo untuk menolak perusahaan tambang marmer di desa Fatukoto. Saat itu dia dan masyarakat menduduki tambang marmer dengan menenun selama dua bulan di desa Fatumnasi dan Kuanoel untuk mengusir perusahaan tambang.

Atas keberanian tersebut, ibu dua anak itu meraih The Goldman Environmental Prize 2013 dan Yap Thiam Hien Award 2016. Dari hadiah The Goldman Environmental Prize sebesar US$150 ribu atau senilai Rp 2 miliar, Aleta mendirikan Mama Aleta Fund pada Maret 2017. Lembaga ini untuk memberikan bantuan pendanaan bagi perempuan pejuang ruang hidup dan pemulihan alam.

Gunarti adalah perempuan Sikep penggagas Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan “Simbar Wareh”. paguyuban gabungan sekitar 300 perempuan Sikep dan petani biasa di Pati dan sekitarnya untuk ikut peduli terhadap lingkungan dan melestarikan kelangsungan pertanian di wilayah Kendeng. Perempuan Sikep bersama kaum laki-lakinya terlibat dalam upaya mengusir dua pabrik semen yang akan mengeruk batuan karst di Pati: Semen Gresik (2009) dan Indocement (2015).

Pada akhir April lalu, Gunarti dan Watchdog melakukan tur 10 kota di Jerman, untuk menggalang solidaritas internasional membantu petani Kendeng menghadapi pabrik semen milik anak usaha Indocement. Rencananya Indocement yang mayoritas sahamnya dimiliki Heildelberg-Cement di Jerman akan membangun pabrik di Pati, Jawa Tengah.

Masih ingat grasi yang diberikan Presiden Joko Widodo pada seorang perempuan pada 19 Desember 2014? Ya, perempuan itu adalah Eva Bande. Grasi itu membebaskan perempuan kelahiran Luwuk, Sulawesi Tengah itu setelah dikriminalisasi oleh perusahaan sawit PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS).

Perempuan bernama lengkap Eva Susanti Hanafi Bande itu dipenjara lantaran membantu masyarakat di kampungnya memperjuangkan ratusan hektare lahan yang dirampas perusahaan sawit.

Sedangkan Nissa Wargadipura adalah aktivis agraria Serikat Petani Pasundan (SPP). Sejak 2009, dia bersama suaminya Ibang Lukman, mendirikan Pesantren Ath-Thariq yang berbasis ekologi di Garut, Jawa Barat. Di pesantrennya ini, Nissa tak hanya mengajarkan ilmu agama melainkan membekali pengetahuan pertanian ekologi bagi santrinya. Pertanian ekologi berarti memelihara berbagai habitat di dalamnya untuk menjaga ekosistem yang saling terkait satu sama lain.

Keempat perempuan pejuang tersebut, kata Maimunah, akan siap berbagi untuk memperkuat perempuan lain yang sedang berjuang menyelematkan alam. (TIM)

Comments

comments