Nyai Nissa Wargadipura bersama santrinya belajar di Kebun Vertikultur Pesantren Kebon Sawah (Foto: http://pesantrenekologi.blogspot.co.id)

“Sebenarnya dalam islam, yang ada tak hanya soal kebutuhan untuk pangan, tetapi di sisi lain juga kewajiban menjaga alam, ada hak binatang lain selain manusia, ada hak alam juga.”

Kalimat itu diucapkan Ibang Lukman, aktivis agraria Serikat Petani Pasundan (SPP). Bersama istrinya, Nissa Wargadipura, mereka mendirikan Pesantren Ath-Thariq pada 2009 di Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat. Pesantren ini yang menjadi lokasi Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air yang digelar Sajogyo Institut pada 14-16 Juli mendatang.

Pesantren Ath-Thariq adalah sebuah pesantren ekologi, yang tak hanya mengajarkan ilmu agama melainkan membekali pengetahuan pertanian ekologi bagi santrinya. Pertanian ekologi berarti memelihara berbagai habitat di dalamnya untuk menjaga ekosistem yang saling terkait satu sama lain.

Pesantren ini seolah menjadi titik balik yang mendorong perubahan pendekatan dalam memperjuangkan reforma agraria, yakni menciptakan produksi dan konsumsi tanding berbasis pendidikan di pesantren. Sebab Nissa dan Ibang meyakini, gerakan reforma agraria tak cukup hanya berbicara sisi produksi lewat reklaim tanah dan bertanam. Mereka juga harus bicara tuntas tentang konsumsi yang mandiri.

“Ternyata reklaim tanah itu tak cukup. Tanah-tanah yang direklaim dan sudah rusak itu butuh biaya tinggi dan waktu lama untuk dipulihkan. Padahal kebutuhan ekonomi makin meningkat karena hampir semua yang diproduksi dan dimakan bergantung pemenuhannya dari luar,” kata Ibang.

Mengapa lewat pesentren? Sebab pesantren punya 3 fungsi: religius (dinniyah), sosial (ijtimaiyah) dan pendidkan. Tak hanya itu, menurut Nissa, pesantren memiliki jejak perjuangan tanah air, menjadi tonggak perlawanan dan pembebasan dari segala bentuk penindasan. Di masa kolonial, pesantren menggerakkan, memimpin dan melakukan perjuangan mengusir penjajah, sekaligus memprakarsai berdirinya NKRI.

Setiap hari Minggu para santri diajak untuk bertani, menanam berbagai jenis pangan untuk kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga pesantren. Lahan seluas 7500 m2 dimanfaatkan menjadi beberapa zona, yaitu area persawahan, kebun tanaman pangan, peternakan, dan juga pembenihan.

Keluarga pesantren mengkonsumsi tanaman pangan sesuai dengan hasil panen yang tersedia, sehingga tidak bergantung pada satu jenis pangan. Para santri di Ath-Thaariq kini terbiasa mengonsumsi umbi-umbian, pisang, dan pangan selain nasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.

Mereka juga mengonsumsi sayur-sayuran yang mereka tanam di kebun sendiri. Seluruh hasil pertanian di lahan Pesantren Ath-Thaariq dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga pesantren. Di Pesantren ini telah ada 400 lebih jenis tanaman yang dikumpulkan, baik lewat tangan para santri dan para pendukungnya.

Nissa dan ibang percaya bahwa pertanian monokultur harus segera dihentikan karena selalu merugikan. 
Selain membutuhkan biaya mahal, petani menjadi sangat tergantung pada perusahaan pupuk kimia dan benih.
Bertani akhirnya sangat terkait dengan uang dan pasar. 
”Bertani akhirnya hanya untuk mendapatkan uang, bukan mendapatkan kebahagiaan”, ujarnya.

Praktek pertanian agroekologi membuat pesantren Ath Thariq tumbuh dan menjadi tempat belajar berbagai kelompok, mulai santri, pelajar, politikus hingga pendeta. Mereka saling belajar menyelamatkan dan memulihkan alam. (TIM)

Comments

comments