Review Buku


Mencari Makroman Di Tanah Pinjaman

Penulis : Siti Maimunah

Penerbit : Sajogyo Institute

Tahun terbit : 2014

Jumlah halaman : 101

Pengulas : Yusuf

Kata Kunci : Relasi Kuasa, Perubahan Agraria, Perjuangan Komunitas,

Tutur Perempuan

Pendahuluan

Buku Mencari Makroman di Tanah Pinjaman memiliki enam bab dimana bab pertama menceritakan alasan mengapa buku ini mesti dibaca karena kepentingan buku ini membawa kita kepada satu kesadaran bahwa apa yang melandasi perubahan yang terjadi dalam bingkai perubahan ekonomi yang mengakibatkan perubahan yang berkelanjutan dengan pergeseran perubahan cara pandang yang dahulunya pamali menjadi sesuatu yang biasa bagi pandangan masyarakat samarinda terutama bagi masyarakat Makroman. Dalam bab ini dikaji bagaimana mimpi makroman yang berasal dari al mukarom yang berarti terhormat atau yang dimuliakan. Namun berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini semua menjadi bencana dengan bentukan koloni yang penuh risiko yang tanpa memperhatikan aspek alam, hukum pun menjadi senjata bagi kalangan berkuasa untuk merenggut tanah-tanah masyarakat. Perkawinan politik, bisnis dan industri keamanan merupakan bagian adegan yang sangat memilukan sebagian orang. Dengan ketentuan oligarki kutu loncat dan rejim yang ekstraksi membuat semua menjadi benar, itulah sedikit inti Keindahan relasi kuasa : perjanjian rejim ekstraksi dari buku Makroman. Lalu dilanjutkan dengan Makroman dengan sejarah kemuliaan yang diinginkan namun apa hendak dikata semua luntur dengan kebengisan para pembawa impian untuk menjadi kaya. Makroman juga impian bagi para pendatang dengan transmigrasi dan pembukaan lahan yang menguntungkan masyarakat untuk dapat hidup bersama dengan alam. Dengan pola Ngrumat, Mbagi dan Nyambut. Dilanjutkan dengan pola ganti kerjo, nempil dan beli lalu dilanjutkan dengan memperdagangkan tanah. Disanalah mulai terjadi ketidak taatan terhadap alam dan budaya alam dengan mengkapling tanah, menyewa, kontrak maupun free. Bab empat dilanjutkan dengan tanah-tanah pinjaman dari transmigrasi ke pertambangan mulailah kisah memilukan dalam bab ini. Pelepasan tanah dan peruskana sebagai sumber utama lahirnya biang bencana baik bencana produksi maupun reproduksi masyarakat makromah. Konsekuensi lain dari itu adalah bab lanjutannya dari buku ini adalah Melepas Tanah dan Mengemis Air. Lalu dilanjutkan dengan penutup dimana menyimpulkan kisah yang dapat diambil dari buku Maimunah dengan Mencari Makroman di Tanah Pinjaman (Perempuan Makroman di Tengah Perubhan Agraria dan Perjuangan Komunitas Menghadapi Pengerukan Batubara).Antara lain adalah para perempuan sendiri memahami lahan sebagai ruang hidup. Dan menyerukan untuk tidak menjual tanah mereka dengan nyawa akan taruhannya.

Ringkasan

Buku Maimunah menceritakan bagaimana kelalaian dalam melihat ekologi sebagai bahan komoditas bukan sebagai daya tahan kehidupan. Lahan sebagai sumber produksi dimanfaatkan tanpa melihat keberlanjutan hidup anak cucu. Banyak konsekuensi yang diterima dalam kasus ini mata pencarian masyarakat yang hilang, posisi struktur sosial masyarakat yang lepas, kesehatan dan mahal nya hidup yang harus dibayar dengan bencana. Perubahan yang terjadi begitu cepat di Makroman, upaya perjuangan dan pemulihan ruang hidup warga ini mau tidak mau harus dilakukan dengan kecepatan yang tak lebih sama. Jika tidak, maka warga Makroman dan warga Samarinda mesti bersiap-siap menanggung ongkos sosial dan ekologis.

Kesimpulan

Lingkungan adalah bagian dari kehidupan yang tak akan berubah bila kita sendiri merubahnya. Pola pikir yang serakah membuat kita mabuk dalam kelimpahan harta di perut bumi sehingga tak sadar lagi kita merekut nyawa banyak orang hingga ank cucu menanggung kondisi yang dilakukan oleh orang yang tak merasa bersalah. Lebih parahnya lagi dilegalkan dengan hukum yang tak memiliki mata. Hal ini dilakukan untuk melegitimasi kesalahan yang dilakukan. Andaikan tanah bisa bicara, tumbuhan dan binatang bisa bicara maka Ia akan berkata Stop penindasan yang dilakukan. Namun, ini berjalan dengan terus menerus pengerukan dan penambangan yang tak berakidah etika membuat alam akan mengambil titik keseimangannya untuk menjaga alam itu sendiri dengan atau tanpa melihat siapakah dia. Oleh karena itu marilah kita sadar dan menyadari dan menjadikan bagian dari aksi nyata sebagai bagian dari aksi ramah terhadap lingkungan. Dengan tidak menjual tanah dan melindungi alam dengan biotanya.