Belanda memasuki Kerajaan Sintang yang masih menjadi satu wilayah kekuasaan dengan Melawi melalui jalur perdagangan pada tahun 1820 atas izin Pangeran Ratu Muhammad Nuh. Belanda membangun kantor dagangnya persis di seberang keraton yang diberi nama dengan Buntut Manasuka. Pada awalnya perdagangan berjalan baik dan lancar
bahkan dapat menambah pendapatan kerajaan lewat pajak yang diperoleh.

Namun lama kelamaan, sama seperti yang terjadi pada kerajaan di daerah – daerah lainnya Belanda mulai melakukan politik devide et impera di kalangan kerajaan dengan puncak menempatkan ratusan serdadu lengkap dengan senjatanya ke dalam kawasan kerajaan sebagai bentuk intimidasi. Dalam kondisi carut marut dan tertekan, Belanda meminta Pangeran Muhammad Nuh untuk menandatangani kontrak atau perjanjian dengan Belanda. [content_protector password=”12345″]Catatan Etnografi 11_Reni_160516 [/content_protector]