Mardhiah Amin adalah warga Desa Dayah Mamplam, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar. Desa ini berjarak 350 meter dari perusahaan tambang semen PT Solusi Bangun Andalas (SBA).  Menurut Ibu Mardhiah tanah air merupakan ciptaan Tuhan yang tidak dapat ditukar dan digantikan oleh apapun dan tanah merupakan dapur perempuan. Sumber air utama yang digunakan Perusahaan diambil dari Krueng Sarah, atau sungai Sarah yang berada di kampung dan perusahaan menjanjikan air  tersebut juga akan diberikan ke warga desa juga. Namun hal itu hanya dirasakan oleh warga desa selama kurang lebih dua tahun, perempuan terpaksa menggunakan sumber air yang debitnya lebih kecil dengan kualitas yang lebih buruk. Air yang diperoleh juga lebih keruh dan rasanya asin.ada musim kemarau sumber air itu berpotensi menjadi kering. Perempuan terpaksa menggunakan air ini untuk keperluan sehari-hari seperti memasak, mandi, dan mencuci, sedangkan untuk minum Perempuan Desa Dayah Mamplam terpaksa membeli air. Nelayan perempuan juga kesulitan menangkap ikan di pinggir laut dan sungai, hal ini memaksa nelayan perempuan harus berlayar bermil-mil lebih jauh dari sebelumnya. Hasil yang didapatkan pun turun. Petani garam perempuan juga terdampak karena kadar garam laut yang turun.

Kehadiran PT SBA di Dayah Mamplam Para petani cengkeh dan kelapa perempuan juga mengalami dampak dari kehadiran PT SBA. Menurut Mardhiah sebelum PT SBA beroperasi tanaman cengkeh dan kelapa memiliki jumlah panen yang banyak. Namun, sejak PT SBA beroperasi jumlah panen menurun dan tanaman cengkeh sulit tumbuh.

Perempuan Dayah Mamplam melawan

Ibu Mardhiah dan perempuan desa Dayah Mamplam melakukan aksi ke pemerintah Aceh meminta perusahaan mengembalikan sumber air yang digunakan dan diambil perusahaan dan menolak pemekaran wilayah tambang. Warga Dayah Mamplam juga melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan PT SBA dan meminta agar perusahaan mengalirkan sumber air yang digunakan perusahaan sebagaimana perjanjian antara perusahaan dengan masyarakat. Perlawanan lain yang dilakukan adalah perempuan desa Dayah Mamplam dengan membuat surat perjanjian dengan Bupati Aceh dan telah ditandatangani dan disetujui oleh Bupati Aceh.