Duapuluhenam September 2015. Pagi itu, pukul 6.00, Salim Kancil sudah selesai mandi. Dia mengenakan jaket abu-abu dan celana panjang krem. Cucunya, berusia lima tahun, Yus Helmi Ananta, juga sudah bangun tidur. Keduanya bermain di halaman rumah.

Sang istri, Tijah,  membuatkan kopi untuk Salim. Tiga puluh menit berselang, dia bersiap mencari rumput ke ladang. Dia berpamitan kepada Salim, yang sedang bermain dengan cucu.

Rencananya, hari itu, dia bersama puluhan warga akan aksi damai menolak tambang di Jalan Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Mereka akan menghentikan truk galian tambang. Mereka ingin menyampaikan bahwa, pertambangan sudah dihentikan kepala desa 9 September 2015.

Sekitar pukul 7.00, Salim mengajak anaknya, Dio Eka Saputra, ikut ke rumah Ichsan—juga warga penolak tambang–, untuk membahas rencana aksi. Pukul 7.40, mereka berangkat bersepeda motor.

Baru sekitar 50 meter dari rumah, Salim melihat sekelompok orang—dikenal dengan tim 12— datang dari arah selatan. Dia memutar balik sepeda motor kembali ke rumah.

Setelah memarkir motor, dia meminta Dio lari ke belakang rumah. Kehadiran Salim disambut oleh cucu. Salim seketika menggendong sang cucu dan membawa ke rumah.

Kala berbalik badan, pukulan Ehsan dan Madasir dengan tangan kosong mendera. Tejo mendekap tubuh Salim, tangan diikat Madasir menggunakan tali tambang.

Salim dinaikkan ke sepeda motor oleh Madasir. Diapit Basri. Dia dibawa ke Balai Desa. Melihat sang ayah dibawa gerombolan itu, Dio berusaha mengejar. Dia dibentak dan dilempari batu oleh salah satu pelaku yang tak dia kenal.

“Jangan ikut-ikut kamu!” hardik salah seorang pengeroyok kepada Dio.

Dio berlari mengabarkan peristiwa ini ke ibunya di ladang.

Sehari sebelumnya, Salim mengajak Dio ke sawah. Sawah mereka rusak karena tambang pasir. Salah satu pelaku dari tim 12, bicara di dekat Dio—kala itu sedang mencari ikan dan kepiting.

Mereka bilang, kata Dio, akan membunuh Salim besok.

Esuk tak pateni kowe Lim (Salim),” kata seorang preman, diulangi Dio.

Dio tak menganggap ancaman ini serius hingga tak menyampaikan kepada ayahnya. Dia pun sudah biasa mendengar teror kepada sang ayah, dari ancaman pukul sampai bunuh karena menolak penambangan pasir hitam di desa mereka.

Comments

comments