Meskipun kecil, dua bola mata saja tidak cukup untuk memahami desa ini. Ia membutuhkan indera lainnya. Telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk merasa dan kulit untuk meraba.

Tidak terasa sudah 2 bulan aku tinggal di desa ini, terhitung sejak 22 Februari 2016 lalu. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan kulalui dengan “semangat dan gembira” sesuai dengan semboyan 13 para perempuan pejuang dan juga para mentor di Sayogyo Institute. Jatuh dan sakit kuanggap itu sebagai bumbu unuk mempernikmat perjalanan kehidupanku di desa ini. Makan nasi, ikan dan sayur, makan nasi dan daging, makan nasi dan umbus, bahkan nasi ditemani garam dan lombok, semuanya kumakan tanpa mengeluh. Susahnya makan “enak” kumaknai itu sebagai sebuah “kesederhanaan”. Kesederhanaan masyarakat Punan Dulau. Meskipun aku tahu kesederhanaan itu merupakan bukti masyarakat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Hampir semua serba beli membuat mereka selalu berpikir besok akan masak apa dan dari mana.

Protected Area

This content is password-protected. Please verify with a password to unlock the content.

Comments

comments