Ella Fotovoice

Ibu Alfi –  begitu anak murid biasa menyapanya, dia adalah guru di SDN 31 Kecamatan Muara Kaman.Jumlah tenaga pengajar di desa itu hanya ada dua; dia dan kepala sekolah. Mirisnya, kepala sekolah jarang sekali (bahkan hampir bisa dikatakan ‘tidak pernah’ ) datang untuk mengajar di kampung, sebab ia bermukim di Kecamatan. Ia hanya mengunjungi sekolah pada momen tertentu, seperti Ujian Nasional (1 Tahun sekali),  Bahkan ada anak yang sama sekali tidak pernah bertemu langsung dengan kepala sekolah

Remaja liang buaya dan impian bersekolah Di kampung sendiri – Anak-anak Liang Buaya yang bersekolah di SMA Martapura Desa Sedulang. Mereka tidak setiap hari berangkat ke sekolah, paling banyak tiga kali dalam seminggu, karena susah dan terbatasnya moda transportasi menuju ke Desa Sedulang. Terutama musim hujan tiba, maka hampir dipastikan mereka tidak bisa berangkat ke sekolah.

Satu SD Satu Guru – Mereka adalah siswa-siswi yang bersekolah di SDN 31 Kecamatan Muara Kaman.SDN ini hanya memiliki satu guru, satu kepala sekolah dan satu ruangan kelas yang dipisah menjadi dua: Sebelah kiri adalah ruangan untuk kelas 1 dan 3, sementara sebelah kanan adalah ruangan untuk kelas 5 dan 6 (Kelas 2 dan 4 Tidak diadakan tahun ini, karena muridnya sudah tidak ada lagi yang bersekolah). Jumlah seluruh murid SDN 31 adalah 16 orang untuk tahun ajaran 2015/2016. SDN ini terletak di Kampung Mangkuliding yang merupakan bagian dari Desa Liang Buaya.

Manda’an – Rumah rakit- disebut juga mandaan, adalah simbol kehidupan sungai masyarakat mahakam. Rumah ini mengikuti pasang surut air, dan rumah ini bisa berpindah sesuai arus yang membawanya.Dulu sebelum ada rumah panggung, hampir seluruh masyarakat desa di sepanjang aliran sungai mahakam ini menghuni rumah rakit. Namun seiring banyaknya pemekaran desa, masyarakat kebanyakan memilih untuk membuat rumah panggung.

Manda’an – Rumah rakit- disebut juga mandaan, adalah simbol kehidupan sungai masyarakat mahakam. Rumah ini mengikuti pasang surut air, dan rumah ini bisa berpindah sesuai arus yang membawanya.Dulu sebelum ada rumah panggung, hampir seluruh masyarakat desa di sepanjang aliran sungai mahakam ini menghuni rumah rakit. Namun seiring banyaknya pemekaran desa, masyarakat kebanyakan memilih untuk membuat rumah panggung.

Bekantan – Sebuah keberuntungan untuk saya dapat melihat dan mengambil gambar Bekantan (monyet berhidung mancung dan berbadan kemerah-merahan),yang merupakan hewan endemik kawasan Mahakam Tengah.Menurut Pak Wandi populasi bekantan sudah  berkurang, sama halnya seperti orang hutan, ’kalau dulu, mereka lari-lari di jembatan sergerombolan lak, 5-10 an Bakantan. Ah kalau orang utan, sudah susah sekali ditemui, dibunuhi sama orang-orang sawit, padahal di kampung ini juga sarangnya orang utan’.Konsesi perkebunan sawit tidak hanya merebut ruang hidup manusia, namun juga ruang hidup hewan-hewan endemik yang harusnya dilindungi, seperti bekantan dan orang utan.

Behuma – Pembukaan lahan dengan tujuan behuma di Desa Liang Buaya kebanyakan dilakukan dengan cara membakar.

Menyiang Ikan –  Menyiang jukut  atau menyiang ikan adalah pembagian kerja perempuan.Di Desa Liang Buaya Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

Memija Ikan –  Mengeringkan ikan (memija jukut-bahasa Kutai) adalah jenis pekerjaan perempuan berikutnya. Untuk satu bidang ikan, perempuan diupah sebesar 4 ribu rupiah.  Jika hari sedang terik, maka  mengambil upah dengan memija (mengeringkan) ikan ini  maksimal hanya untuk 4-5 bidang sehari, atau setara dengan 20 ribu rupiah. Hal itu juga disampaikan oleh ibu Jus “Biasanya la, aku sama Nila (anak perempuan pertamanya).Selesai menyiang ikan dan dapat mija ikan 4-5 bidang, gak tahan kalau lebih dari itu, panas kan. Jadi sehari itu kami dapat 70 ribu rupiah, kami kumpulkan dikit-dikit, nanti akhir minggu baru diambil untuk beli beras, Nila biasanya dipakai untuk belanja ke pasar malam”.

Jukut Pija –  Mata pencaharian utama masyarakat Desa Liang Buaya ini adalah mencari ikan air tawar untuk kemudian dijual kepada pedangang besar, baik itu di Desa maupun yang berasal dari luar Desa. Untuk di Desa Liang Buaya, masyarakat kebanyakan menjualnya kepada Haji Jamhuri, seorang haji yang teras rumahnya terbuat dari keramik.

Musik Elekton – Acara ini adalah syukuran sawit, yang dilakukan atas kerjasama antara perusahaan dan pihak pemerintah Desa. Duit plasma yang masih bersisa digunakan untuk membeli seekor sapi dan menyewa musik electone serta para artis ini.

Pasar malam Paling Ramai – Menurut warga kampung,pasar malam pada tanggal 5 Maret 2016 adalah pasar malam paling ramai sepanjang sejarah kampung. Yang terjadi pada hari Jum’at 4 Maret adalah pembagian duit plasma sebesar 5 juta rupiah/KK (Kepala Keluarga) untuk pertama kalinya dari perusahan sawit PT ATK. Ada 310 KK yang mendapatkan uang segar tersebu  dan momen mingguan pasar malam digunakan sebagai tempat untuk membelanjakan uang 5 juta rupiah tersebut.

17 Agustusan di Mangkuliding tidak pernah ada perayaan apapun. Kantor Desa yang jauh dan tidak adanya inisiatif membuat 17 Agustusan menjadi sangat biasa saja. Saya dan anak-anak lalu memutuskan untuk membuat sendiri ragam lomba, mulai dari cerdas cermat hingga lomba permainan tradisional, yakni Aseng Kepong. Peralatan yang digunakan pun mereka sediakan sendiri, mulai dari kertas,pena, tali, kerupuk, botol, dll.

17 Agustusan di Mangkuliding tidak pernah ada perayaan apapun. Kantor Desa yang jauh dan tidak adanya inisiatif membuat 17 Agustusan menjadi sangat biasa saja. Saya dan anak-anak lalu memutuskan untuk membuat sendiri ragam lomba, mulai dari cerdas cermat hingga lomba permainan tradisional, yakni Aseng Kepong. Peralatan yang digunakan pun mereka sediakan sendiri, mulai dari kertas,pena, tali, kerupuk, botol, dll.

Gudang Haji Mor adalah ‘workshop’ yang dimiliki oleh Almarhum Haji Mor, orang tua angkat dari Kak Napi dan Pak Dullet. Gudang ini berisikan ragam alat tangkap ikan, perkakas pembuat perahu, alat-alat masak, bahkan mainan anak-anak yang semuanya terbuat dari kayu. Meskipun beliau sudah meninggal, tapi gudang ini masih difungsikan sebagai ruang aktivitas pembuatan alat tangkap ikan oleh anak dan cucunya.

Maskulitas Alat Tangkap – Alat tangkapan ikan tidak mengenal jenis kelamin untuk mengoperasikannya. Namun hal ini kontradiktif dengan pembagian kerja gender yang berlaku secara umum di kampung Liang Buaya, Laki-laki sebagai penangkap ikan, dan perempuan sebagai buruh siang dan pija ikan.  Gambar ini adalah seorang perempuan, yang setiap harinya memasang langit-langit (salah satu jenis alat tangkapan ikan yang berbentuk jaring). Dia dan suaminya membagi tugas dalam mencari ikan, yang membedakannya hanyalah wilayah jelajah. Jika si ibu mencari ikan di sekitar sungai yang tidak jauh dari pemukiman (dan dengan menggunakan perahu biasa), maka sang suami menggunakan perahu motor (chess).

Menyetrum Diam-Diam – Warga yang tidak sengaja saya  potret, sedang melakukan aktivitas menyetrum di siang hari di kawasan sungai perbatasan Liang Buaya dan Sedulang. Menyetrum sungguh berbahaya jika dilakukan di siang hari, sebab masih banyak manusia yang berlalu-lalang. Dikhawatirkan akan ada yang tersengat listrik saat sedang melakukan aktivitas.  Namun kondisi ‘susah’ seperti hari ini akan membuat nelayan melakukan beragam cara, agar bisa mempertahankan asap dapur

Jalan Baru – Hari ini, gambut diperlakukan dengan semena-mena. Diubah jadi lahan sawit, dipotong jadi jalan baru, dan entah kedepan, mungkin akan masuk dalam konsesi hijau proyek reducing emmisions from deforestation and forest degradation (REDD).Padahal  gambut adalah ruang hidup yang memerankan fungsi vital bagi warga setempat, yang bekerja sebagai nelayan. Gambut adalah runag hidup bagi ikan-ikan

Mesin eskavator tersebut milik perusahaan sawit (PT ATK). Perusahaan tersebut membiayai pembuatan jalan baru, untuk memperlancar kebun plasma yang rencanaya akan dimulai pada tahun 2017.  Warga sangat antusias dalam menyambut jalan baru. Mereka meyakini bahwa jalan baru ini akan mengefektifkan waktu menuju Kota Samarinda. Meski pada kenyataannya, jalan baru ini adalah instrumen perusahaan untuk memperlancar arus modal, dari perusahaan/kebun  menuju Desa.

Hari ini, gambut diperlakukan dengan semena-mena. Diubah jadi lahan sawit, dipotong jadi jalan baru, dan entah kedepan, mungkin akan masuk dalam konsesi hijau proyek reducing emmisions from deforestation and forest degradation (REDD).Padahal  gambut adalah ruang hidup yang memerankan fungsi vital bagi warga setempat, yang bekerja sebagai nelayan. Gambut adalah runag hidup bagi ikan-ikan.

Ibu-Ibu Menanam Cabe Lah! Ujar Pak Menteri Yang Tidak Pernah Berjalan Di Kampung-Kampung  – Ibu-ibu beristirahat setelah sepanjang hari turun ke ladang behuma.  Maka hari ini ketika menteri bilang ‘Ibu-ibu kurangi ngerumpi dan mulai tanam cabe’, ada baiknya MENTERI yang terhormat tersebut main ‘jauh’ ke pelosok Kalimantan, dimana justru IBU-IBU lah penggiat ladang behuma. Dan apa yang salah dengan ‘ngerumpi’, yang hari ini merupakan bentuk ‘kelembagaan non formal perempuan’, tempat dimana percakapan-percakapan antar perempuan terjadi.  Pak menteri harus berjalan sesekali di kampung-kampung, supaya tidak lagi mengeluarkan pernyataan yang diskriminatif gender seperti itu.

PKK – Aktivitas mingguan yang dimiliki perempuan di kampung adalah pengajian dan arisan PKK.  Kegiatan ini dilakukan setiap hari Jum’at. Sayangnya memang tidak semua perempuan melibatkan diri dalam kegiatan rutin PKK ini. Hanya beberapa ibu-ibu saja yang kerap terlihat rutin hadir. PKK di kampung tidak benar-benar bisa dianggap mewakili kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh perempuan kampung. Untuk urusan dana, mereka tidak bisa mengakses jumlah riil yang seharusnya mereka terima, padahal ketika pelaporan anggaran, pengurus PKK dipaksa untuk melaporkan sejumlah uang yang tidak sesuai dengan apa yang mereka terima, bahkan jumlahnya sangat jauh melampaui.

Lambok dan kelompoknya mengaku diri sebagai pelurus sejarah. Menurutnya hari ini Kesultanan Kutai Kartanegara tidak memberi tempat kepada Kutai Mulawarman untuk hidup sebagai narasi sejarah. Lambok mengangkat diri sebagai raja kebudayaan, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Salah satu tuntutannya adalah ‘kembalikan YUPA kami’ yang hari ini dietalasekan di Museum Nasional. Kelompoknya sedang membentang spanduk yang memuat tanda tangan warga yang menyetujui usulan mengembalikan Yupa tersebut.

Muara Kaman adalah Ibu Kota Kecamatan yang mencakup 19 Desa, salah satunya adalah Desa Liang Buaya. Di Kecamatan ini terdapat situs bersejarah yang sangat penting, yakni museum kerajaan Kutai Mulawarman ing Martadipura. Menurut prasasti Yupa, bahwa dulu Raja Mulawarman yang baik dan mulia mempersembahkan 20 ribu ekor sapi kepada Dewa Brahmana, sebagai ungkapan rasa syukur. Cerita yang datangnya ratusan ribu tahun yang lalu ini, mungkin tidak akan lagi kita temui. Tampak bahwa dulu, beternak mungkin menjadi pilihan ekonomi masyarakat Muara Kaman. Tapi sekarang Kampung ini dikelilingi oleh Konsesi sawit dan pertambangan.  Museum ini mungkin akan jadi saksi sejarah, bahwa dulu ‘kami bisa hidup tanpa sawit’.

Bidan VS Dukun – Bangunan ini adalah posyandu yang dulunya merupakan rumah dinas bidan Amah. Bidan muda yang ditugaskan di Desa, namun sayangnya hanya bertahan tidak lebih dari beberapa bulan saja. Konon salah satu ‘dukun kampung’ tidak suka atas kehadiran Bidan muda ini. Ia kerap mendapatkan sms teror untuk segera angkat kaki dari kampung.

Ibu Jus Dan Sakitnya  – Ibu semang ku menderita sakit perut hampir satu  bulan lamanya. Sudah tiga kali diberi suntikan oleh Mantri Desa, tapi hasilnya nihil,Ibu tetap melanjutkan pengobatan dengan ‘orang pintar di kampung’. Ibu dikabarkan menderita kepuhunan, akibat menebas ‘PERAKUT’, yaitu sebuah jimat yang digunakan oleh orang dulu sebagai penanda sebuah teritori (ruang hidup), ketika ia membuka lahan untuk behuma. Ibu sembuh pada akhirnya, meski orang-orang sebagian mengira dia menderita usus buntu, tapi  pada akhirnya ‘berdamai dengan perakut’ adalah satu-satunya cara.

Aqua Dan Kosmologi – Gambar ini memang terlihat seperti mempromosikan produk air minum kemasan tertentu. Namun pesan yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa air ini dibeli oleh ibu Alfi (guru di kampung Mangkuliding) untuk memenuhi kebutuhan air anaknya yang masih berusia 2 tahun.  Untuk satu bulan, bisa dua kardus air kemasan botol 600 ml yang dihabiskan.  Beliau memutuskan menggunakan air minum kemasan, karena anaknya tidak sesuai dengan air yang berasal dari sungai.

Pirik cabe adalah kuliner khas kampung ini. Ibu selalu pandai membuat pirik cabe limau – cabe rawit yang di’pirik’ mentah dan dicampur air perasan jeruk nipis. Selain itu apa yang menarik dari gambar ini adalah cobek yang digunakan ibu sudah berusia 20 tahun. Ibu membeli cobek itu sejak Nila anak pertama lahir, ‘Seumuran Nila cobek ini lak’, kata Ibu berulang kali menjelaskannya padaku.

Meskipun moda transportasi dari dan ke Liang Buaya cukup sulit, namun tidak sedikit pelaku usaha yang jauh-jauh datang untuk menawarkan produk tekhnologi canggih. Seperti di gambar ini, panci yang bisa memasak dengan cepat dan bahkan merebus tanpa air. Tidak hanya panci, barang-barang mahal konsumsi kelas menengah  seperti produk Sophie Martin, Herbalife, Tupperware, Moorlife, pun juga sampai di kampung ini. Hal ini juga menandai peningkatan kebutuhan rerproduksi sosial perempuan di kampung Liang Buaya.

Seperti Malam di Rumah Rakit – Suasana ketika malam hari di rumah rakit ibu semang, tanpa televisi dan penerangan yang listrik. Kami kerap menghabiskan malam dengan berbincang hingga lewat tengah malam.

Potret Belakang di Rumah Rakit – Bagian belakang rumah biasanya tempat meletakkan alat-alat tangkapan ikan. Rumah rakit ibu juga tidak dilengkapi jamban, sehingga kalau kita lihat digambar, ada drum kecil berwarna kuning, itu digunakan sebagai ‘penghalang’ ketika ingin melakukan aktivitas buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB).  Namun kita pun harus hati-hati apabila ingin BAK/BAB, harus memperhatikan apakah dibagian belakang sedang ada orang yang berlalu lalang, atau di hutan sedang ada yang memanjat pohon.

Potret Rumah Rakit

Merawai Di Pagi Hari – Bapak hanya meninggalkan 300 ribu sampai dia pulang’, kata Ibu di suatu sore padaku. Untuk mensiasati bertahan hidup, Ibu ‘merawai’ sedari pagi-pagi ‘Malu kalau ada yang liat, masa perempuan merawai’.  Maka pagi-pagi sekali ibu keluar rumah, mendayung perahunya bersama anak laki-laki paling bungsu, untuk memasang ‘mata rawai’.

Ibu Melhat Hasil Rawai Di Sore Hari – Setelah menjelang sore hari, ibu akan melihat hasil rawaiannya. Hari itu ada 2 ekor patin yang berjumlah dua kilo ibu berhasil dapatkan. Ikan itu ia jual dengan tetangganya seharga 9 ribu rupiah ‘Lumayan untuk beli minyak manis’ kata Ibu.

Onjon – Onjon (Kutai) atau Pukung (Banjar)–ayun duduk adalah metode ‘mengayun’ anak usia 1-5 tahun, dengan posisi duduk. Metode mengayun ini dipercaya oleh ibu-ibu di kampung lebih ‘ampuh’ untuk menidurkan anak, ketimbang ayun tidur. Anak yang di onjon bisa tertidur lebih lama ketimbang diayun berbaring. Selain itu menurut Ibu Jus tulang belakang anak yang dionjon sedari kecil, akan lebih terbentuk dan bagus.

Tradisi Beundangan VS Kertas Undangan – Kak Deni adalah sepupu dua kali Juang. Ia berasal dari Desa Sabintulung, sebuah desa yang menghabiskan 1-2 jam jarak tempuh dari Liang Buaya. Dalam melaksakan proses pernikahannya, kak Deni sudah menggunakan ‘kertas undangan’ sebagai medium untuk mengundang.Hal ini sebenarnya tidak ada dalam tradisi warga Kutai maupun Banjar, yang mengundang langsung dengan ‘mendatangi rumah dan menyampaikan maksud undangan’ atau dalam istilah lokal disebut ‘beundangan’.Namun Sabintulung adaah Desa yang sudah terhubung dengan daratan-jalan sawit- maka kehidupan kampung sudah hampir tidak ‘terasa’ di kampung ini.

Air Bangar – Air Bangar adalah  fenomena alam yang menjadi penanda air pasang. Dalam bahasa ilmiahnya gejala alam ini dikenal dengan istilah upwelling. Biasanya selama bangar, air akan berubah menjadi kotor dan berbau. Bau-nya menyerupai bangkai, tajam dan menyengat. Namun air bangar ini juga membawa rejeki bagi masyarakat kampung, biasaya akan ada ikan-ikan tertentu yang bermunculan ke permukaan akibat ‘pusing’.  Salah satu ikan yang muncul tersebut adalah Ikan Baong, dengan pasaran harga yang cukup mahal Rp.25.000.-/kg.  Biasanya menurut bapak-bapak nelayan yang ada di kampung, air bangar tidak akan berlangsung lama, paling lama hanya 3-4 hari.  Namun ada keganjilan yang terjadi dalam tahun ini, air bangarnya berlangsung berkali-kali, dengan fase bangar-berhenti-bangar. Selain berlangsung dua kali dan dalam rentang yang cukup lama, yakni sekitar 20 hari, air pasang yang ditunggu-tunggu ternyata tidak juga datang.

Banjir Mulai Datang!!! – Banjir sudah berangsur datang, lapangan yang biasa dipergunakan untuk bermain bola voli kini sudah mulai terlelap banjir.  Setelah 1,5 tahun setengah mengalami kemarau – semenjak Juli 2015, keberkahan ini datang menyapa kampung di Mahakam Tengah. Sayangnya intensitas banjir kali ini  benar-benar tidak menentu. Air pasang surut dalam waktu yang cukup cepat – antara 1 hingga 2 minggu- padahal dahulu ketika industri sawit tidak mencipta kanal-kanal di sungai dan lahan gambut, durasi waktu banjir mencapai 3 hingga 4 bulan lamanya .

Banjir Mulai Datang!!! – Banjir sudah berangsur datang, lapangan yang biasa dipergunakan untuk bermain bola voli kini sudah mulai terlelap banjir.  Setelah 1,5 tahun setengah mengalami kemarau – semenjak Juli 2015, keberkahan ini datang menyapa kampung di Mahakam Tengah. Sayangnya intensitas banjir kali ini  benar-benar tidak menentu. Air pasang surut dalam waktu yang cukup cepat – antara 1 hingga 2 minggu- padahal dahulu ketika industri sawit tidak mencipta kanal-kanal di sungai dan lahan gambut, durasi waktu banjir mencapai 3 hingga 4 bulan lamanya .

Save Pesut Mahakam   – Mereka mengenal pasut atau pesut–dalam bahasa lokal- sebagai hewan yang kerap berlalu lalang, ketika air surut mereka menuju ke hilir, dan ketika air banjir mereka akan menuju ke bagian hulu. ‘Pada bulan Februari satu pesut ditemukan mati di tunjungan kak’, sahut seorang anak. ‘Waktu itu mungkin kakak belum datang’, lanjut mereka.

Dilain waktu seorang ibu bercerita padaku, ‘Kami tidak makan pesut kak Ela’, ‘Pesut itu manusia, ceritanya dia adalah anak kecil yang diberi makan ibu tirinya bubur panas, sehingga badannya melepuh dan ia terjun ke sungai untuk mendinginkan badan.Maka pesut itu masih saudara kami’.

Cerita lokal seperti ini yang tidak pernah dihargai bahkan dianggap sebagai patron untuk perjuangan mempertahankan ruang hidup. Oleh perusahaan tambang, lewat ponton-ponton besarnya tersebut, jalur hidup pesut dilalui, sehingga menyebabkan pesut mati akibat kebisingan mesin serta pencemaran akibat aktivitas mesin ponton.

Kapal Pembawa Bahan Bakar Genset – Adalah kapal yang mensupply bahan bakar untuk mesin genset Desa. Per-tiga hari warga harus membayar sebesar Rp.20.000,- sebagai uang pengganti bensin yang digunakan.Untuk satu bulan, satu rumah tangga menghabiskan Rp.200.000,-untuk mendapatkan asupan listrik yang hanya bertahan selama 6 jam setiap harinya.

Musrem Bangdes – Konon semua ide dan saran yang masuk akan ditampung dan dikelola oleh Tim Penyusunan Rencana Kerja pemerintah (RKP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang harus memperhatikan porsi partisipasi perempuan didalamnya. Namun lagi-lagi, melihat prosesi musrenbangdes yang sebatas seremonial dan latihan ‘public speaking’, saya menyangsikan keterlibatan perempuan secara substanstif.

Pelangi Di Atas Kedemba – Pohon kedemba-yang pucuknya menjulang paling tinggi-itu adalah pohon favorit saya dan adek semang. Dari pohon itu kami biasa menakar kapan datang nya bulan purnama ‘Kata babah ku, kalau purnama, bulan itu tepat diatas kedemba’, cerita Juang padaku.