Foto: Voni Novita

Oleh Mai jebing

Meskipun ada yang gagal nikah, haid berhenti 8 bulan, tak bisa pulang kampung, dan teman dekat meninggal karena COVID-19, kehidupan harus berlanjut, dan Ruang Baca Puan kolektif bersepakat berjuang melaui aktivisme, menanam dan literasi ekofeminis.

Siang kemarin (23/01/2021), Ruang Baca Puan kolektif bertemu pertama kalınya di 2021. Kami perempuan bersepuluh, dengan beragam umur, profesi, agama, pendidikan, dan sebaran geografi, yang disatukan oleh Ruang Baca Puan dan ekofeminis. Sayang dua diantara kolektif belum bisa bergabung dalam pertemuan daring ini, Fiqoh lagi pusing sebagai pengurus RT di kampung saya di propinsi Banten sana, sementara Sartika harus berdamai dengan tubuhnya yang sedang hamil muda di pulau Sulawesi bagian Selatan sana. Sisanya, kami berdelapan – empat orang di Samarinda dan Bengalon Kalimantan Timur, satu orang di Sumatera Utara lagi mengurus warung kopi orang tuanya, dua orang lag di Jakarta menjadi aktivis WALHI dan pelajar di sebuah SMA, serta saya di Passau, Jerman. Kami mengelola secara kolektif Ruang Baca Puan, termasuk menyelenggarakan Sekolah Literasi Ekofeminis yang akan dimulai bulan depan. Pandemik COVID-19 ini membuat ruang dan waktu makin memendek lewat ruang daring. Lokal dan global makin tipis, atau bahkan tak bertepi, seperti udara atau bentang alam yang awalnya memang tak berbatas administrasi.

Pertemuan daring dimulai dengan kolektif ‘care’. Kami saling memberi kabar apa yang sedang kami alami, agar saling tahu dan saling dukung, jika dibutuhkan. Saya menggunakan kata ‘care’ bukan menggunakan Bahasa Indonesia yang artinya peduli. Lebih jauh ‘care’ di sini dalam kontek ‘politic of care’, jadi ini dimaknai melampaui makna peduli, yang terdengar lebih dangkal. Namun peduli dalam makna yang lebih politis, seperti saya mejadi aktivis karena peduli pada diri (self-care), komunitas, dan alam. Kepedulian dalam makna yang lebih aktif dan politis ini yang melatari kami bertemu di Ruang Baca Puan.

Giliran kolektif ‘care’ adalah bagian yang menyenangkan dan haru biru, ceritanya beragam. Salah satunya tentang, “Aku sudah tidak haid selama 8 bulan”, kata salah satu kolektif. Dia lantas merefleksikan mengapa tubuhnya bereaksi begitu. Ternyata, hal itu karena gaya hidupnya berubah jorok, makannya tidak teratur, suka junk food seperti minuman buble-buble, dan kurang tidur. Belakangan, encoknya juga suka kambuh. Sampai-sampai keluarganya kuatir dan membawanya ke dokter. Namun setelah dia mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, badannya mulai mengajak berdamai. Dia sedang merayakan kembalinya siklus haid-nya.

Ada juga yang menceritakan dirinya jadi rajin merawat tanaman, karena harus WFH. Kami juga diperlihatkan foto halaman rumah seupliknya yang terlihat hujau. Dia juga makin paranoid karena COVID-19 kini menyerang lingkar dekat keluarga. Hal serupa juga dirasakan oleh anggota kolektif yang tinggal di Kalimantan Timur. Menariknya, kluster COVID-19 banyak ditemui di sekitar lokasi tambang batubara, dimana banyak orang keluar masuk. Salah satu kontraktor PT Kaltim Prima Coal, tambang batubara terbesar di Indonesia diketahui terdapat 1000 lebih karyawannya yang terkena COVID-19. Sayangnya kluster kluster ini tak banyak dibicarakan karena tak mau mesin uang para oloigarki ini berkurang. Mesin ekstraksi alam tak berhenti meskipun para buruhnya sakit.

Foto Delvita

Sistem ekonomi kapitalis selalu menemukan cara untuk memperbesar labanya di tengah krisis. Saya jadi ingat penolakan terhadap pengesahan Omnibus law. Produk hukum sapu jagar yang memungkinkan perusahaan tambang batubara dimudahkan mengurus perijinan, AMDAL, bahkan bisa gratis royalty setelah Omnibus Law disahkan saat krisis pandemik. Mereka yang tinggal di kawasan-kawasan pembongkaran kekayaan alam mengalami penderitaan berlipat. Jaringan Advokasi Tambag (JATAM) dalam laporannya tahun lalu mengibaratkan seperti, sudah pandemik, tertimpa tambang.

Cerita yang menarik lainnya adalah tentang healing gagal nikah. Salah satu anggota kolektif bercerita.”Dalam dua bulan terakhir hidupku berattt, seperti roller coster”, ujarnya. Dia gagal nikah, dan harus melakukan healing tak hanya buat dirinya, tapi juga keluarganya. Catatan pentingnya, dia dan pasangannya bersepakat dengan sadar membatalkan pernikahan meski undangan sudah disebar. Setidaknya dia berhasil menenangkan keluarganya, dan berdamai dengan dirinya. Saya senang mendengar ceritanya menemukan cara meng-healing emaknya dengan kesibukan bertanam tanaman hias di rumah. “kuncinya, belikan dia pot dan sediakan bibit buga”, ujarnya. Kami ngakak, dan tak bersedih lagi melihatnya kembali tersenyum. Saya bahkan takjub mendengar dia memutuskan menghadiri pernikahan sepupunya yang menikah untuk kedua kalinya. Dia sudah menyiapkan diri menjawab stigma perempuan belum menikah, ataupun gak jadi menikah. Dia bahkan sudah menduga percakapan itu, “Kamu ini ya, sepupumu aja sudah menikah dua kali, eh kamu sekali aja gak jadi”. Saya setuju dengannya, senyum lebar adalah cara paling beradab menanggapi kalimat itu, di tengah masyarakat yang menganggap pernikahan adalah sebuah kewajiban, ujung pencapaian prestasi, kenaikan derajat dan jalan mulia masuk surga.

Meski begitu, ada juga yang kegiatannya tak terganggu. Namanya Delvi. Saya bertemu dia di Kalimantan Tengah tahun lalu. Saat itu dia aktivis Solidaritas Perempuan. Kini, dia di Brastagi. Bahkan saat kamu bertemu daring, dia sedang di warung kopi mamaknya di sebuah pasar ramai di daerah Brastagi. Sesekali dia menghentikan percakapan karena harus melayani pembeli. “Banyak pembicaraan di warung kopi ini, mulai gossip sampai politik”, ujarnya. Hubungan satu sama lain sangat dekat. “Kami bahkan bisa minta sayur atau buah gratis, jika barangnya dititipkan di warung”, ujarnya.

Di Jerman lain lagi. Sudah sebulan ini negara bagian Bavaria -tempat saya tinggal, berstatus lockdown. Seminggu terakhir bahan kami diwajibkan pake masker N95, masker kain dilarang. Semua toko termasuk restoran tutup sebelum natal, dan hanya toko bahan makanan mentah yang buka. Sistem belajar mengajar Universitas dilakukan secara daring, meskipun kantor kantor masih buka, tapi disarankan WFH. Sesuai ramalan, musim dingin membuat angka penderita COVID-19 sulit turun. Benua Eropa kini memasuki gelombang kedua COVID-19, termasuk Passau, kota dimana saya tinggal yang berpenduduk sekitar 50 ribu orang, di perbatasan Jerman -Austria.

Intinya, kami baik-baik saja dengan dinamika dan jatuh bangun masing-masing, kami survive, dan bersepakat terus berjuang melaui aktivisme, menanam, dan literasi, melayani pengetahuan anak-anak muda, aktivis, khususnya perempuan melalui ekofeminis.

Ruang Baca Puan awalnya adalah kelompok baca karya Vandana Shiva, yang terdiri dari para aktifis TKPT, JATAM dan Jatam Kaltim. Tahun lalau mereka secara khusus membaca dan mendiskusikan buku-buku Vandana Shiva yang banyak berbicara tentang ekofeminis. Proses ini menginspirasi untuk membagikan pengetahuan lewat sekolah Ruang Baca Puan yang dibuat terbuka untuk anak anak muda perempuan pada musim panas 2020. Ada sekitar 119 peserta yang mendaftar, dan dipilih hanya 20 orang saja untuk mengikuti kelas daring sejak Juni – September 2020. Sebagian alumninya kemudian bergabung dengan Ruang Baca Puan yang bertransformasi mengelola dirinya secara kolektif. Minggu lalu, alumi Ruang Baca Puan mengadakan diskusi buku “Feminism for the 99%, A Manifesto”. Kami bangga bisa melakukannya dengan bekerjasama, kolektif.

Apa saja yang dilakukan Ruang Baca Puan kolektif? Ikuti lewat www.pejuangtanahair.org

Comments

comments