Oleh
Siti Maimunah

Ra, aku membayangkan ceritamu tentang sungai Dulau dan riak-riaknya
Tentang hutan yang diubah jadi pohon-pohon kertas.
Tentang daun daunnya menjulur seperti kertas tissue
Tentang buahnya yang putih terang, menyengat gunungan bubur kertas
Ceritamu kulihat di toilet, kantor-kantor dan perpustakaan universitas

Le’, aku mengingat gambarmu tentang sungai Kapuas dan anak-anaknya
Tentang tanah retak mengganti perginya danau Semendut
Tentang empat desa yang kehilangan air, ditukar tumpukan limbah bouksit
Tentang pohon tengkawang yang tak lagi berbaris di sepanjang sungai
Gambarmu kulihat juga di kaleng-kaleng makanan, mobil-mobil di jalan raya dan batere

Jan, aku mendengar tuturmu tentang sungai Malinau dan keramahannya
Tentang barisan kelapa sawit yang mengganti hutan warna warni
Tentang ikan-ikan patin dengan buah sawit di lipatan lemaknya
Tentang hilangnya legit ikan dan manis air, kini hambar dan berlemak
Tuturmu kubaca di botol-botol kosmetik dan papan pom bensin

Jul, aku terbayang sungai Sanga-sanga dan kemasyurannya
Tentang keasinganmu pada tanah, yang kini berpindah saat hujan,
Tentang keharusan membuat bendungan karung-karung pasir
Tentang tanah yang mengeras , tapi lubang-lubang menganga penuh air
Kekesalanmu kulihat di lampu mal-mal metropolitan di Jawa

Sar, aku mengingat sungai Mahakam dengan tepiannya
Tentang kapal-kapal dengan tumpukan batang-batang meranti di atasnya
Tentang tongkang-tongkang batubara yang berbaris di bawah jembatan
Tentang air minum yang menghabiskan sepertiga upah minimum buruh
Ingatan itu tersurat pada daftar anak-anak yang mati di lubang-lubang tambang

Had, aku juga menyimak ceritamu tentang sungai Santan dan buaya penjaganya
Tentag hulu sungai yang rusak, dan banjir yang rutin datang
Tentang para Balian yang tak berdaya menghadapi buaya pemangsa tetangganya
Ceritamu terlihat di wajah orang-orang kaya di Istana dan Senayan

Ann, aku membayangkan sungai Barito dengan pasar apungnya
Tentang seramnya haji-haji batubara yang bermain-main dengan agama,
Tentang ibukota yang lebih rendah dari muka laut, juga lubang-lubang raksasa
Bayangan itu lekat pada banjir bandang yang mengepung ibu kota

Namun, aku menyimak juga cerita Suket
Tentang perempuan penganyam rotan yang bersaudara dengan roh-roh tanah
Tentang ritual berladang untuk. menghormati tanah, padi dan hutan
Tentang “unang Telang Otah Ine”, hutan bagai air susu ibu
Tentang keyakinan bahwa hutanlah sebenar benarnya supermarket

Tapi, aku juga menghayati cerita Had,
Tentang anak-anak muda Santan yang menghidupkan kampung halaman
Tentang cita-cita pemulihan di tengah kepungan raksasa tambang dan sawit
Tentang semangat belajar dan membangun ekonomi tanding
Tentang harapan pada festival kemandirian dan sumber daya komunal.
: Sore itu aku bertemu tubuh keduaku, tanah air.

Dari Temu Perempuan Pejuang Tanah Air Benua Etam, 8 Maret 2021

Comments

comments