Jakarta, 22 Maret 2021 – Memperingati hari air dunia, TKPT mendukung GAGGA (Global Alliance for Green and Gender Action) bersama perempuan di komunitas akar rumput dari Asia, Afrika dan  Amerika Latin menyerukan  penghentian perusakan sumber-sumber dan badan air serta menuntut pemulihan atas krisis air akibat aktivitas industri ekstraktif khususnya pertambangan dalam kampanye hari air “Kita, Perempuan adalah air”.

Mengapa “Kita, Perempuan adalah Air?” Keterbatasan perempuan dalam mengakses air diperparah dengan kegiatan perusahaan, pemerintah dan pemodal yang terlibat dalam industri esktraktif, melakukan solusi iklim yang salah dan agroindustri. Dalam proyek-proyek tersebut, hak asasi perempuan, komunitas lokal dan masyarakat adat seringkali dilanggar karena lemahnya proses konsultasi, pelibatan dan tidak diakuinya veto rakyat.

Air adalah sumber kehidupan yang lekat dengan gender manapun, khususnya perempuan. Kegiatan sehari-hari tidak lepas dari kebutuhan atas air baik untuk minum, mandi memproduksi pangan hingga kebutuhan domestik lainnya. Air juga menjadi kebutuhan utama bagi makhluk hidup lainnya (non-human nature). Air tersebut berasal dari sumber yang beragam seperti kawasan karst, sungai, danau, laut, dan sumur yang saat ini sedang dan akan mengalami  perusakan dan dicemari, khususnya oleh pertambangan bahan semen, batubara, pasir, emas, nikel, timah hitam dan migas.

Situasi ini terekam  dalam diskusi sepanjang Januari – Maret 2021, TKPT melakukan pertemuan daring dengan perempuan aktivis dan perempuan di komunitas pada wilayah-wilayah yang mengalami eksploitasi oleh pertambangan di pulau Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Kondisi air tersebut mengalami perubahan secara signifikan akibat dari kegiatan pertambangan dan pencucian batubara di Sungai Mahakam (Kalimantan Timur), Sungai Barito (Kalimantan Selatan) dan Sungai Malinau (Kalimantan Utara), DAS Air Bengkulu (Bengkulu). Wilayah perairan pesisir juga dirusak dan dicemari oleh pabrik semen (Aceh), tambang pasir laut (Sulawesi Selatan), tambang emas di Teluk Buyat (Sulawesi Utara), serta tambang Nikel (Sulawesi Tengah). Sementara sungai Porong di Jawa Timur, terus menjadi tempat pembuangan lumpur Lapindo.

Apa dampaknya bagi perempuan? Perempuan sebagai kontributor terbesar dalam kegiatan domestik, dihadapkan dengan situasi krisis air bersih. Mereka terpaksa membeli air untuk menyediakan minum dan kebutuhan lainnya untuk dirinya dan keluarga karena sumber airnya tercemar. Air untuk kebutuhan pertanian pun turut terganggu sehingga menyulitkan perempuan dalam memproduksi dan mengolah makanan. Selain itu perempuan lebih rentan menderita penyakit kulit, organ reproduksi, serta gangguan pernafasan jika air tercemar. Di wilayah pesisir, perempuan terbebani dengan sistem ekonomi utang karena pendapatan nelayan menurun akibat kegiatan pertambangan merusak ekosistem laut yang menjadi satu-satunya mata pencaharian warga.

Terbaru, pemerintah Indonesia menerbitkan peraturan pemerintah No. 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada 2 Februari 2021, mengeluarkan abu hasil pembakaran PLTU (Fly Ash dan Bottom Ash) dari kategori Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3), yang merupakan produk turunan dari UU Cipta Kerja No 11. Tahun 2021. Kehadiran PP ini turut meresahkan perempuan sebab dapat memperparah kerusakan air tanah yang berefek pada tubuh perempuan. Perempuan semakin rentan terkena penyakit kanker payudara dan rahim akibat endapan kandungan logam berat dalam limbah yang terserap ke dalam air tanah mereka.

Maka dari itu, untuk mendukung aksi GAGGA bersama komunitas akar rumput dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan seluruh dunia terhadap hak atas air bersih, dengan ini TKPT menyatakan :

  1. Menolak segala bentuk kegiatan industri pertambangan dan berbagai turunannya yang melanggar hak perempuan atas air bersih.
  2. Mendukung upaya global dalam melakukan divestasi terhadap bahan bakar fosil yang menyebabkan pencemaran dan perusakan sumber-sumber air.
  3. Mendorong pengakuan hak perempuan atas akses air bersih melalui kebijakan lingkungan hidup.

Narahubung:

Meike Inda Erlina (0852-6807-0230),

Sartika Nur Shalati (0822-6113-8244)

Comments

comments