Oleh: Adjie Valeria dan Mai Jebing.

Bertemu, berbagi kabar dan berpikir bersama tentang pengalaman tubuh hingga tanah air  merupakan salah satu kebutuhan berkolektif. Akhir Maret, tak semua kolektif bisa bertemu, kami hanya berenam kali ini. Itupun terpisah dengan beragam jarak kota, pulau dan benua. Maret ini bulan penting, momentum perayaan hari perempuan atau biasa kita kenal ‘women march’. Ini bulan berbagi dan mempercakapkan pengalaman dan pikiran-pikiran perempuan. Beberapa anggota kolektif diundang untuk membagi pemikirannya dan semangat ekofeminis tanah air, memadukan feminisme dengan keadilan lingkungan. Bagi kebanyakan anggota kolektif, ekofeminis menjadi pisau analisis yang penting untuk melihat bagaimana ketidakdilan terhadap perempuan oleh sistem patriarki bergandengan dengan perusakan lingkungan dalam sistem ekonomi kapitalis. Menganalisis kebijakan  baru Presiden Joko Widodo yang mengeluarkan limbah batu bara sebagai dari daftar limbah beracun berbahaya (B3) menggunakan ekofeminis akan terlihat terang benderang bagaimana kelindan oligarki, perubahan kebijakan yang merugikan lingkungan dan ancaman ynag sangat nyata bagi warga negara, khususnya perempuan. Ini sungguh kabar buruk tak hanya buat pejuang lingkungan tapi buat rakyat secara umum.

Limbah B3 mengandung unsur berbahaya, termasuk logam berat. Kami khawatir penghapusan status tersebut akan berpengaruh makin buruk setelah Jokowi tidak menjabat. Pejabat yang mengubah peraturan hanya menjabat paling lama satu dekade, dampaknya bisa bertahan sampai berdekade ditanggung oleh rakyat. Seperti desa-desa yang terpapar logam berat akibat bencana industri migas di Jawa Timur, yang warganya mengeluhkan gangguan kesehatan psikis dan fisik. Kandungan logam berat yang tinggi, seperti Cadmium memiliki pengaruh terhadap berkurangnya kemampuan tubuh balita dalam menyerap gizi dari makanan yang masuk ke tubuhnya. Situasi ini bisa mengakibatkan tingginya anak anak yang mengalami stunting.

Percakapan tentang balita ini membawa pada percakapan tentang kehamilan. Satu anggota kolektif saat ini sedang hamil, meskipun dia masih takjub dengan kehamilannya, termasuk badannya yang bisa naik begitu cepat.  “Berat badanku tiba-tiba naik 3 kilogram dalam beberapa hari” ujarnya. Dia juga kerap mengalami  moodswing. Sebagai pasangan baru, dia dan suaminya harus belajar satu sama lain termasuk belajar berkomunikasi. ”Dulu kalo aku bilang kepalaku sakit, suamiku kurang peka. Kalo aku minta pijetin kek kepalaku, dulu  malah cuek. Padahal aku butuh dipijitin biar tak terlalu sakit. Tapi sekarang sudah mulai paham “, ujarnya. Cerita yang membuat kami tergelak, ramai. Apalagi saat dia tak menduga bahwa kehamilan bisa terjadi begitu cepat. Percakapan seperti ini tak hanya membuat kami tertawa lepas, tetapi juga seperti refleksi atas pengalaman kebutubuhan perempuan yang berbeda satu sama lain, dan kepedulian lingkungan keluarga terdekat dan komunitas bisa membuatnya lebih ringan atau sebalikya.

Pengalaman kehamilan tak hanya tentang ketakjuban tehadap perubahan tubuh, tapi kadang juga kesedihan. Sedih saat salah satu kolektif menceritakan temannya mengalami keguguran pada kehamilannya yang pertama. “Aku belum punya pengalaman hamil, tapi karena setiap ada bercak di celana dalamnya, sahabatku selalu menanyakan pada ku, aku akhirnya membaca buku-buku tentang kesehatan di masa hamil, dan keguguran kehamilan,” ujarnya. Inilah salah satu bentuk kepedulian sesama perempuan, mengingat kami pun satu sama lain saling mendukung.

Ada cerita menarik dari saling dukung sesama perempuan.  Salah satu kolektif yang sedang menyelesaikan masa akhir SMA nya  bercerita bagaimana sistem online cukup merepotkan. Untuk jawaban dalam bentuk naratif, baginya cukup mudah karena cukup terbiasa berbincang dengan banyak orang, membaca dan menulis bersama Ruang Baca Puan. Namun, untuk bagian yang bersinggungan dengan logika nalar perhitungan, seperti matematika yang membuatnya cukup menguras pikirannya “Bayangi deh, udah mengerjakan soal kemudian dipertengahan jalan tiba-tiba sinyal ada gangguan, jadi aku harus mengulang dari awal lagi”. Penuturannya ini membuat kami sangat mudah membayangkan jika kami diposisinya yang tentu sedikit kesal. Tetapi rasa kesal memang tidak menyelesaikan masalah. Pada akhirnya kembali mengerjakannya dari awal dan berharap semoga jaringan internet pun mendukung menyelesaikan ujian matematika ini.

Menuntaskan segala pekerjaan yang sedang kita alami baik masing-masing anggota kolektif adalah landasan semangat bagi kami untuk terus memproduksi pengetahuan bersama. Selesai satu kewajiban studi misalnya, memang tak lupa beristirahat maupun jeda sejenak seperti aktivitas memasak sehingga bisa mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas baik masih pada sistem online maupun bergerak langsung terlibat di lapangan. Sebab dari anggota kolektif kami ada yang tetap turun ke lapangan untuk penelitian maupun diskusi tentang kondisi sosial ekologis hari ini.

Pertemuan pada akhir maret 2021 kemarin seperti berbagi energi semangat baik. Hal ini terlepas saling melunasi rindu satu sama lain untuk mendengar cerita masing-masing dan saling penasaran di bulan ini apa saja yang sudah dilakukan. ‘No Single Story’ adalah pegangan bersama agar kami terus saling peduli.

 

Comments

comments