Dila Fotovoice

KOPI Menggongseng kopi. Kopi yang sudah ditumbuk kemudian ditampi dan dibersihkan. Kopi ini akan dicampur dengan berasakan digongseng sampai rapuh dan bewarna hitam. Kopi yang telah digongsengakan digiling sampai halus sebelum dijual dan diseduh untuk diminum.

Kopi – Kopi yang akan digonseng dicampurkan dengan beras. Umumnya masyarakat disini Koto Menggamat mencampurkan beras kedalam bubuk kopi. Kopi setelah digonseng kemudian akan digiling sampai halus dan dijual jika ada permintaan. Harga kopi perkilo adalah Rp 60.000.

Perempuan Dan StempelStempel merupakan alat transportasi yang dipergunakan sungai Kluet ,Sungai ini juga terkenal dikalangan penggiat alam karena arusnya yang deras. Di kiri-kanan disepanjang sungai ini terdapat perkebunan masyarakat, mereka berkebun dengan menggunakan alat trasnportasi ini, namanya stempel. Stempel ini merupakan boat yang bisa menampung 7-9 orang penumpang dengan seorang pengemudi. Dengan menggunakan alat transportasi ini masyarakat yang memiliki kebun di sepanjang sungai akan pergi kekebun di pagi hari dan kembali pada sore hari. Nama tempat pemberhentian stempel adalah Jamur papan, saat pagi dan sore hari aktivitas ditempat ini sangat ramai dengan masyarakat yang hendak kekebun atau kembali pulang. Disini juga masyarakat mencari ikan sungai membawakan hasil pencariannya yang akan ditampung oleh penjual ikan atau masyarakat yang datang kemari untuk langsung membeli ikan sungai dari para pencari ikan, karena jika dibeli di pasar harganya menjadi dua sampai tiga kali lipat lebih mahal.

SUNGAI MENGGAMATDi hulu sungai Menggamat ini ada Perusahaan Pinang Sejati Utama (PT PSU), sebelum Perusahaan tersebut datang, sungai ini memiliki debit air yang cukup besar dengan ikan-ikan yang besar. Masyarakat menggunakan air sungai ini untuk dikonsumsi dan juga untuk mandi cuci. Dulu mereka memiliki bilik-bilik khusus untuk lelaki dan perempuan, punya adat khusus ketika harus melewati bilik laki-laki atau perempuan.

Kolam Bekas Tambang – Kolam bekas tambang dari PT.Pinang Sejati Utama, tambang ini sungguh cantik namun berbahaya, cerita yang berkembang di masyarakat jika ada parang yang dibuang kedalam kolam ini akan luruh. Atau apapun yang di lemparkan kedalam kolam ini. Kolam ini penuh jika hujan dapat dipastikan bahwa air ini akan melimpah keluar dan akan mengalir kebawah bukit.

 

Perempuan Petani Perempuan petani yang sedang menurunkan bawaannya dari stempel setelah mengarungi derasnya sungai Kluet yang melimpah (banjir). Mereka kembali pulang karena khawatir sungai Kluet yang semakin meninggi. Umumnya mereka menginap di kebun-kebun sembari merawat tanaman-tanaman yang ada di kebun. Banjir membuat mereka khawatir dan bersegera pulang, karen ajika air semakin besar tidak ada stempel yang akan menjemput mereka di kebun masing-masing.

HIDUP PEREMPUAN..!!
HIDUP PETANI..!!
STOP MEMARJINALKAN PEREMPUAN DI KAMPUNG!

PODIUM Anak remaja putri sedang menghias podium yang akan dipakai untuk berceramah pada malam peringatan Isra Mi’raj. Remaja putrid ini umumnya telah selesai Sekolah Menengah Atas, mereka tinggal di Kampung karena tidak melanjutkan kuliah. Sebagian mereka sudah dipinang dan menunggu waktu untuk menikah. Tidak sekolah berarti mempersiapkan diri untuk menikah.

Memainkan Canang Memukul Canang di Acara Pesta Masyarakat Kluet menyebutkan alat music sejenis gong kecil disebut dengan canang. Musik ini dimainkan dengan hitungan ketukan yang sama. Namun, bias menghasilkan suara yang enak untuk didengar. Selain canang masyarakat juga memukul sengatau panci-panci agar suasana menjadi ramai. Yang memainkan alat music ini adalah perempuan yang sudah berusia paruh baya. Sembari memasak ketan atau memasak lainnya perempuan ini memainkan canang sambil bersenda dengan tarian-tarian. Sesekali permainan canang dihentikan karena kelelelahan kemudian dilanjutkan kembali. Rumah pesta akan kelihatan sangat sepi jika tidak ada para nenek-nenek yang memainkan canang dan bersenda. DiKluet para nenek simempelai sangat eksis, berjoget menari, bersenda.

Sungai Kluet Bagi masyarakat Kluet,Sungai merupakan bagaian dari prosesi adat. Hampir semua masyarakat Kluet dipastikan pernah mengalami prosesi dibawa kesungai pada saat khitanan, baik lelaki maupun perempuan. Yang akan dikhitan dibawa kesungai dengan digendong, sedangkan bagi anak lelaki yang disunatkan didudukkan di bahu pemamuan lelaki dan dibawa kesungai. Di sungai akan ditepung tawar (pusijuek) dan diprosesi mandi dengan air jeruk, sebelum dimandikan dengan air sungai. Masyarakat pun mengeluh karena debit air sungai menjadi sangat sedikit.

Hari Pasar Hari Pasar setiap Kamis merupakan hari pekan yang dipusatkan di Gampong Koto, semua masyarakat yang berada di Kecamatan Kluet Tengah berkumpul untuk berbelanja atau menjual hasil bumi di Gampong Koto. Terlihat seorang ibu sedang menjual hasil bumi berupa jagung dan ubi (ketela), di sebelahnya seorang bapak juga menjual hasil bumi termasuk cabe kecil. Pada hari pasar para pengumpul hasil bumi dari kebun juga menyasar rumah-rumah penduduk yang mengupas pinang dan cokelat dengan membeli langsung di rumah.

Kunyit Sebagian penduduk menanam kunyit di kebun-kebun untuk di jual pada hari pekan. Kunyit yang sudah dipanen kemudian di bersihkan dan ditumbuk sebelum dijemur dan dihaluskan lagi.

Perempuan Pencari UdangPerempuan pencari udang. Jika sungai Kluet melimpah (banjir), maka terlihat banyak perempuan-perempuan beberapa hari kemudian setelah air surut disepanjang sungai Kluet. Mereka datang berbondong-bondong mencari udang ditepi sungai dengan menggunakan jaring berwarna biru. Namun dari beberapa orang yang saya tanyai, hasil tangkapan (udang) sangatlah sedikit biasanya mereka bisa membawa pulang udang dalam jumlah yang banyak.

Udang Sungai Udang sungai ini akan dicari ketika sungai Kluet banjir dan terutama dalam kondisi air keruh. Pasca banjir sungai menjadi ramai dengan kehadiran perempuan dan laki-laki yang mencari udang dengan menggunakan jarring. Tapi beberapa tahun terakhir hasil tangkapan udang setelah banjir semakin lama semakin berkurang .

 

Pencari Ikan Seorang lelaki mencari ikan didepan kebun kemiri (tumbuhan keras). Kebun-kebun ini tidak dijaga lagi oleh pemiliknya sesekali pemilik datang untuk memungut kemiri yang jatuh. Harga kemiri kian menurun, sehingga banyak kebun kemiri yang sudah di tebang dan diganti dengan sawit karena harga sawit sekarang semakin meninggi jika dibandingkan dengan hasil perkebunan lainnya.

Perempuan dan Kebun Perempuan dan kebun. Dibawah tenda ini semua aktifitas dilakukan mulai dari memisahkan kacang tanah dari batangnya, memasak, makan, sampai dengan tidur di malam hari. Tidak ada fasilitas mewah yang disediakan sipemilik kebun kepada pekerja perempuan dan laki-laki yang mencari upah harian, karena sipemilik kebun juga akan tidur di tempat yang sama dan juga memakan makanan yang sama dengan mereka. Gubuk yang kecil dan berdinding diperuntukkan untuk para ibu yang memiliki anak kecil agar lebih hangat. Tungku dengan nyala api dari kayu itulah dapur darurat yang dibuat selama para petani tinggal di kebun.

Menjala Ikan Dua orang pengendara Stempel mencoba peruntungan mereka dengan menjala ikan disela-sela istirahat dari pekerjaan mereka yang membawa penumpang dengan menggunakan stempel tersebut. Jika beruntung, ikan-ikan tersebut akan dibawa pulang untuk lauk yang akan dikonsumsi oleh sekeluarga. Jika dulu sangat mudah mendapatkan ikan di sungai Kluet, akan tetapi beberapa tahun terakhir ikan teramat susah untuk didapat, pencari ikan harus bergerak jauh kehulu untuk mendapatkan ikan Keurleng

Alat Membakar Emas Ibu JM duduk membelakangi alat yang digunakan untuk membakar emas. Beliau mengakui tidak teralu banyak tau tentang alat tersebut karena itu merupakan usaha suaminya. Beliau hanya berurusan dengan beras dan benang-benang yang dijual di took tersebut. Dulu ketika emas sedang Berjaya disini, kami tidak sempat beristirahat dan duduk karena banyaknya pelanggan yang datang untuk membakar emas dan menjualnya.

Pencari Emas Pemandangan dari atas Gunung PayaTek. Dengan perbesaran berkali kali. Disinilah para pemburu emas bermalam dan menggali lubang-lubang mencari peruntungan dari emas. Walaupun msyarakat sangat paham jika rejeki dari emas tidak akan pernah bertahan lama. Namun, tidak ada pilihan lain karena sebagian mereka tidak mau kekebun. Para pencari emas disini tidak hanya dari masyarakat yang berdomisili di Kluet Tengah tetapi juga masyarakat dari PayaTek

Bidan Perempuan ini merupakan salah satu bidan tua yang ada di Kampung. Beliau sekarang terkenal dengan bidan yang paling perhitungan. Karena mengambil tarif yang tinggi jika ada prosesi yang dilakukan. Hanya keluarga-keluarga yang banyak uang yang bisa memanggil beliau. Bidan ini tak segan-segan memarahi orang-orang yang tidak berkesesuaian dengan keinginannya. Seorang bidan Kampung berusia paruh baya  di Desa menjadi saingannya. Sehingga dia berjanji tidak akan pernah menurunkan ilmu kebinannya kepada orang lain hanya akan diberikannya kepada anak-anaknya. Termasuk doa-doa dan rajah-rajah.

Kayu Bakar Perempuan pencari kayu bakar. Walaupun pemakaian gas telah dikenal secara umum di Menggamat, akan tetapi pemakaian kayu bakar masih dilakukan disetiap rumah. Kayu bakar ini dicari oleh perempuan dan dibawa pulang dengan menggangkatnya dikepala. Makanan yang dimasak dengan menggunakan kayu rasanya lebih enak.

Ibu Rm Ibu RM baru-baru ini mendapatkan rumah bantuan Dhuafa karena keluarganya tergolong miskin. Perempuan ini tidak banyak bicara, ia selalu tersenyum dan selalu menegur perempuan lain yang menggosipkan orang lain jika jalur cerita sudah tidak berarah lagi. Ibu RM tidak pernah mengeluh pada kehidupannya yang sulit. Beliau bekerja dari kebun kekebun dan juga dari panggilan orang-orang untuk bekerja. Bentuk penutup kepala yang dipakai oleh perempuan Kluet hamper sama dengan cara yang dipakai oleh perempuan Alas dan Takengon

NILAM Perempuan ini berasal dari Gampong Koto yang dating kekebun Mak WR untuk bekerja sebagai pekerja harian mencincang nilam. Mereka berkumpul sebelum pukul 08:00 pagi di Pelabuhan Jambur Teka, kemudian pergi bersama-sama kekebun nilam yang terletak di Muara Sungai Simpali. Para perempuan-perempuan ini bekerja dari pukul 08:00 -17:00 WIB

NILAM Perempuan ini berasal dari Gampong Koto yang dating kekebun Mak WR untuk bekerja sebagai pekerja harian mencincang nilam. Mereka berkumpul sebelum pukul 08:00 pagi di Pelabuhan Jambur Teka, kemudian pergi bersama-sama kekebun nilam yang terletak di Muara Sungai Simpali. Para perempuan-perempuan ini bekerja dari pukul 08:00 -17:00 WIB

 

Rumah di Sarah Baru Bentuk rumah yang ada di Gampong Sarah Baru, Desa terjauh yang berada di Mukim Menggamat (Kecamatan Kluet Tengah). Dalam 2 tahun terakhir ini pembukaan lahan untuk pengambilan emas sangat gencar dilakukan di Seda paling ujung ini, berjarak sedikit kehulu sungai Menggamat. Kekhawatiran air tercemar karena pengolahan emas yang sangat gencar dan juga hilangnya ikan-ikan di sungai Kluet menjadi gosip-gosip diantara perempuan, terutama perempuan yang keluarganya mengkonsumsi ikan sungai. Di Gampong ini juga dibuka Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai kompensasi masyarakat Gampong ini bebas menggunakan aliran Listrik. Karena desa ini terpencil membuat banyak sekali bantuan-bantuan dan bakti sosial yang datang, tetapi tidak konsisten sehingga mayarakat sudah terbiasa,  namun bantuan itu tidak akan bertahan lama. Karena masyarakat membutuhkan guru yang selalu ada dan juga petugas kesehatan.

RUMAH Pada umumnya masyarakat membuat rumah dengan hanya menggunakan pasir dan semen. Mereka tidak menggunakan batu bata kecuali pada rumah-rumah baru. Rumah ini dibuat dengan mencetak langsung didinding tersebut campuran pasir dan semen diantara apapan yang sudah dipaku sebagai penyangga. Ditengah-tengahnya dipakaikan balok yang kokoh untuk menompang semen tadi. Sehingga terlihat bagaimana kasarnya dinding ini ketika sudah selesai. Karena kadang campuran semen yang kurang merata ataupun pepan penyangga yang kurang rapat